Jumat, 28 November 2014

KITAB BIDAYATUL HIDAYAH KARYA IMAM AL GHOZZALI

KITAB BIDAYATUL HIDAYAH KARYA IMAM AL GHOZZALI (17)

فإذا أفرغت من ذلك كله، وفرغت من إصلاح نفسك ظاهرا وباطنا، وفضل شيء من أوقاتك، فلا بأس أن تشتغل بعلم المذهب في الفقه لتعرف به الفروع النادرة في العبادات، وطريق التوسط بين الخلق في الخصومات عند انكبابهم على الشهوات.. فذلك أيضا بعد الفراغ من هذه المهمات من جملة فروض الكفايات.

keteika engkau telah menyelesaikan semuanya itu dan telah selesai jg dari memperbaiki dirimu dari segi lahir maupun batin dan masih ada tersisa waktu maka tdk menjadi masalah jika kamu menyibukkan dirimu dgn mempelajari ilmu madzhab fiqh, agar mengetahui cabang yg langka dalam hal ibadah, dan jalan pertengahan diantara makhluk di dalam permusuhan mereka ketika mereka sedang tekun terhadap syahwat.
mempelajari ilmu tsb setelah selesai dari perkara yg penting tadi jg termasuk jumlahnya fardhu kifayah.

فإن دعتك نفسك إلى ترك ما ذكرناه من الأوراد والأذكار استثقالا لذلك، فاعلم أن الشيطان اللعين قد دس في قلبك الداء الدفين، وهو حب المال والجاه فإياك أن تغتر به، فتكون ضحكة له، فيهلكك، ثم يسخر منك.

jika nafsumu mengajak utk meninggalkan wirid2 dan dzikir2 yg telah kusebutkan karena merasa berat misalnya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya setan yg dilaknat telah memasukkan penyakit yang disembunyikan dalam hatimu yaitu penyakit cinta harta dan cinta pangkat, maka berhati2lah dirimu jangan sampai tertipu,
karena setan akan mentertawakanmu jika kamu rusak kemudian dia akan menghinamu.

فإن جربت نفسك مدة في الاوراد والعبارات، فكانت لا تستثقلها كسلا عنها، لكن ظهرت رغبتك في تحصيل اعلم النافع، ولم ترد به إلا وجه الله تعالى والدار الآخرة، فذلك أفضل من نوافل العبادات مهما صحت النية. ولكن الشأن في صحة النية فإن لم تصح النية فهو معدن غرور الجهال، ومزلة أقدام الرجل.

jika engkau telah mencobai dirimu tentang wirid2 walaupun sebentar dan tidak merasa berat atai malas tetapi malah terlihat menyukainya untuk mendapatkan ilmu yg bermanfaat dan jg tdk mengharaokan kecuali karena dzatnya Allah ta'ala dan akherat maka hal itu lebih utama dari pada ibadah2 sunnah jika memang niatnya benar. jika niatnya tidak benar maka hal itu jg termasuk sumbernya tipuan bagi orang2 bodoh dan jg tempatnya tergelincirnya telapak kaki

TA'AWUDZ DALAM SHALAT ATAU SELAINNYA

TA'AWUDZ DALAM SHALAT ATAU SELAINNYA

Kesunahan Membaca Ta’awudz, Setelah Doa Istiftah, sebelum membaca Surah Al Fatihah. Baca juga lafa niat dalam shalat, insyaAllah akan diteruskan dengan pengajian tentang shalat secara kaffah:
Perlu diketahui, bahwa keterangan ini secara keseluruhan diambil dari Al Adzkar Imam Nawawi (631-676H).

Perlu diketahui, telah menjadi kesepakatan para Ulama bahwa membaca ta’awudz setelah membaca doa istiftah hukumnya sunah. yaitu dilakukan sebelum membaca Al-Qur’an. Hal ini berdasarkan firman Alloh Swt, Q.S An-Nahl, ayat: 98

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Apabila kamu membaca Al-Quran, hendaknya kamu memmohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (Q.S An-Nahl: 98)

Menurut Jumhurul ulama’ Ayat diatas maknanya, jika kami menghendaki membaca Al-Qur’an, maka terlebih dahulu membaca ta’awudz.
Perlu diketahui, bacaan ta’awudz yang terpilih, adalah A’údzubil lahi minasy syaithanir rajiim, ada juga yang mengatakan A’údzubil lahis samii’il ‘aliim, minasy syaithanir rajiim. Kedua kalimat diatas shahih, akan tetapi yang masyhur berdasarkan pendapat yang mukhtar adalah yang pertama.
Telah kami riwayatkan dalam Sunan Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Al-Baihaqi dan lainnya, sungguh sebelum Nabi Saw membaca Al-Qur’an sebelum dalam shalat, beliau membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ نَفْخِهِ وَنَفْثِهِ وهَمْزِهِ
A’údzubil lahi minasy syaithanir rajiimو min nafkhiḫi wa naftsihi wa hamzihi
Aku berlindung kepada Alloh dari godaan setan yang terkutuk, dari tiupan dan bisikannya.

Dalam redaksi riwayat lain dengan menggunakan lafadz:
أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ، مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيْمِ، مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
A’údzubil lahis samii’il aliim minasy syaithanir rajiim min nafkhihi wa naftsihi wa hamzihi
Aku berlindung kepada Alloh, Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk, dari tiupan dan bisikannya.

Dalam penafsiran hadits diatas, hamzihi, adalah penyakit gila, nafkhihi adalah: sifat sombong, dan naftsihi adalah sair-sair yang buruk. Wallaahu a’lam..

Perlu diketahui, bahwa membaca ta’awudz hukumnya sunah, bukan wajib. Jika meninggalkannya maka tidak berdosa dan tidak batal shalatnya, baik meninggalkannya dengan sengaja atau karena lupa dan tidak melakukan sujud syahwi bagi yang meninggalkannya. Membaca ta’awudz disunahkan pada semua shalat, baik shalat fardlu atau semua shalat sunah, begitu juga pada shalat janazah. Hal ini berdasarkan pendapat yang shahih. Berdasarkan kesepakatan Ulama disunahkan juga bagi orang yang membaca Al-Qur’an diluar waktu shalat.
Perlu diketahui, berdasarkan kesepakatan Ulama membaca ta’awudz disunahkan pada rakaat pertama, jika meninggalkannya pada rakaat pertama, maka membaca ta’awudz pada rakaat ke-dua, dan jika tidak membaca ta’awudz pada rakaat ke-dua maka membacanya pada rakaat setelahnya dan seterusnya. Kemudian jika telah membaca ta’awudz pada rakaat pertama, apakah disunahkan juga pada rakaat kedua? Dalam hal ini dalam pandangan Ulama Syafi’iyah ada dua pendapat, sedangkan pendapat yang ashah adalah tetap disunahkan, akan tetapi lebih ditekankan pada raka’at yang pertama.
Jika membaca ta’awudz pada shalat yang dibaca pelan, maka bacaan ta’awudz juga dibaca pelan. Kemudian jika pada shalat yang dibaca keras, apakah ta’awudz dibaca dengan keras juga? Dalam hal ini para Ulama berbeda pendapat. Sebagian Ulama Syafi’iyah mengatakan bacaan ta’awudz dibaca pelan, sedangkan menurut jumhurul ulama (kebanyakan ulama) pendapat Imam Syafi’i ada dua pendapat dalam kesunahannya, hukumnya sama antara dibaca pelan dan keras, hal ini berdasarkan ketetapan beliau dalam kitab Al-Umm, sedangkan pendapat yang kedua dibaca dibaca keras, hal ini berdasarkan ketetapan beliau dalam kitab Al-Imla’.

Sebagian ulama Syafi’iyah ada yang mengatakan, ta’awudz dibaca keras, pendapat ini dibenarkan oleh As-Syaikh Hamid Al-Asfarayiny, salah satu imam dari kalangan Syafi’iyah yang berasal dari negara Irak dan sahabatnya yang bernama Al-Mahamily, hal ini berdasarkan apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah Ra. Ibnu Umar dalam membaca ta’awudz, beliau membacanya dengan pelan. Pendapat ini adalah pendapat yang ashah menurut kebanyakan Ulama Syafi’iyah, yaitu pendapat yang mukhtar (terpilih). Wallahu a’lam

Pendapat Ulama Tentang Antara Sunah Dan Bid'ah

Antara sunnah dan bid’ah


Menurut para Ulama’, bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama’ yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah:

1. Imam Syafi’i
Menurut Imam Syafi’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Jadi bid’ah yang mencocoki sunnah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunnah adalah madzmumah.

2. Imam al-Baihaqi
Bid’ah menurut Imam Baihaqi dibagi dua; bid’ah madzmumah dan ghoiru madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ adalah bid’ah ghoiru madzmumah.

3. Imam Nawawi
Bid’ah menurut Imam Nawawi dibagi menjadi dua; bid’ah hasanah dan bid’ah qobihah.

4. Imam al-Hafidz Ibnu Atsir
Bid’ah dibagi menjadi dua; bid’ah yang terdapat petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak ada petunjuk nash di dalamnya.
Jadi setiap bentuk bid’ah yang menyalahi kitab dan sunnah adalah tercela dan harus diingkari. Akan tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam kategoti terpuji.

Lalu bagaimana dengan hadits kullu bid’atin dzolalatin..?
Berikut ini adalah pendapat para ulama’:
1. Imam Nawawi
Hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditahshis (diperinci).
2. Imam al-Hafidz Ibnu Rojab
Hadits di atas adalah dalam kategori ‘am akan tetapi
yang dikehendaki adalah khosh (‘am yuridu bihil khosh). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum, namun dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.

Jangan Mencela Makanan Dan Sunahnya Memuji Makanan

KITAB RIYADHUS SHALIHIN : " Bab 101. Jangan Mencela Makanan Dan Sunnahnya Memuji Makanan "

733. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. itu tidak pernah mencela sama sekali pada sesuatu makanan. Jikalau beliau s.a.w. ingin pada makanan itu beliaupun memakannya dan jikalau tidak menyukainya, maka beliau tinggalkan -tanpa mengucapkan celaan padanya-." (Muttafaq 'alaih)

734. Dari Jabir r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. meminta lauk pauk kepada keluarganya, lalu mereka berkata: "Tidak ada yang kita punyai melainkan cuka. Beliau s.a.w. lalu memintanya dan mulailah beliau makan serta bersabda: "Sebaik-baik lauk pauk ialah cuka, sebaik-baik lauk pauk ialah cuka." (Riwayat Muslim) Sabdanya Beliau s.a.w. adalah untuk memuji lauk yang sedang dimakan tersebut, bukan untuk dibanding-bandingkan dengan lauk yang lain. Wallahu'alam

Kitab Riyadhus Shalihin Apa Yang Diucapkan pada Orang yang Berpuasa

KITAB RIYADHUS SHALIHIN : " Bab 102. Apa-apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Mendatangi Makanan Ketika Ia Sedang Berpuasa Dan Tidak Hendak Berbuka

735. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda: "Apabila seseorang diantara engkau semua diundang -untuk menghadiri sesuatu jamuan makan-, maka hendaklah mengabulkan undangan itu. Jikalau ia berpuasa, maka hendaklah ia berdoa sesuatu yang baik untuk keluarga yang mengundang itu, dan jikalau ia berbuka -yakni tidak berpuasa-, maka hendaklah makan." (Riwayat Muslim) Para alim ulama berkata: "Artinya fal yushalli ialah hendaklah berdoa agar keluarga seisi rumah orang yang mengundang itu memperoleh pengampunan dan keberkahan. Adapun artinya fal-yath'am ialah hendaklah ia makan."

Kitab Riyadhus Shalihin: Yang Diucapkan Orang Yang Diundang pada Jamuan Makanan

KITAB RIYADHUS SHALIHIN : " Bab 103. Apa Yang Diucapkan Oleh Orang Yang Diundang Untuk Menghadiri Jamuan Makanan Lalu Diikuti Oleh Orang Lain -Tanpa Diundang- "

736. Dari Abu Mas'ud al-Badri r.a., katanya: "Ada seorang lelaki mengundang Nabi s.a.w. untuk menghadiri suatu jamuan makanan yang dibuat untuk beliau, sebagai orang kelima dari lima orang yang diundang untuk itu. Tiba-tiba orang-orang yang diundang itu diikuti -oleh seseorang- yang tidak ikut diundang. Setelah beliau s.a.w. sampai di pintu, lalu beliau s.a.w. bersabda: "Orang ini mengikuti kita semua. Jadi jikalau engkau suka mengizinkan untuk ikut -biarlah ia ikut-, tetapi jikalau engkau tidak menyukainya, biarlah ia kembali saja." Orang yang mengundang lalu menjawab: "Bahkan saya mengizinkannya, ya Rasulullah." (Muttafaq 'alaih)

KITAB SHAHIH BUKHARI : " Bab: Penjelasan tentang sifat surga dan neraka

KITAB SHAHIH BUKHARI : " Bab: Penjelasan tentang sifat surga dan neraka

No. Hadist: 3001
Telah bercerita kepa da kami Ahmad bin Yunus telah bercerita kepada kami Al Laits dari Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan melihat tinggalnya sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan melihat tempat tinggalnya sebagai penduduk neraka".

No. Hadist: 3002
Telah bercerita kepada kami Abu Al Walid telah bercerita kepada kami Salm bin Zarir telah bercerita kepada kami Abu Raja' dari 'Imran bin Husain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita".

No. Hadist: 3003

 Telah bercerita kepada kami Sa'id bin Abu Maryam telah bercerita kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau bersabda: "Ketika aku tertidur, aku (bermimpi) diperlihatkan surga, di dalamnya ada seorang wanita yang sedang berwudlu' di sisi istana. Aku bertanya: "Untuk siapakah istana itu". Mereka menjawab; "Untuk 'Umar bin Al Khathab". Maka kuingat kecemburuannya lalu aku pun berlalu. Maka 'Umar menangis seraya berkata; "Apakah patut aku cemburu kepadamu wahai Rasulullah?".

No. Hadist: 3004
Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami Hammam berkata aku mendengar Abu 'Imran Al Iawniy dia bercerita dari Abu Bakr bin 'Abdullah bin Qais Al Asy'ariy dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "(Di surga) ada kemah bundar melengkung terbuat dari mutiara yang menjulang ke langit sepanjang tiga puluh mil pada setiap sisinya di sediakan untuk orang beriman sebagai penghuninya, orang yang lain tidak dapat melihat mereka". Abu 'Abdush Shamad dan Al Harits bin 'Ubaid berkata dari Abu 'Imran: "Panjangnya enam puluh mil".

No. Hadist: 3005
Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: "Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia". Bacalah firman-Nya jika kamu mau (QS as-Sajadah 17) yang artinya ("Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang telah disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata").

No. Hadist: 3006
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rombongan pertama yang masuk surga rupa mereka seperti bentuk bulan saat purnama, mereka tidak akan pernah beringus, tidak meludah dan tidak pula membuang air besar (tinja). Alat perabot mereka di dalam surga terbuat dari emas, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak, lat penghnagtan mereka terbuat dari kayu cendana, keringat mereka seharum minyak misik. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri (bidadari) yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang".

No. Hadist: 3007
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rombongan pertama yang memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rombongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah berselisih dan saling membenci di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri (bidadari) yang setiap istri itu sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang. Mereka tidak pernah sakit, tidak pernah beringus dan tidak pernah meludah. Perabotan mereka terbuat dari emas dan perak, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan tempat perapian mereka terbuat dari kayu cendana". Abu Al Yaman berkata; "Maksudnya kayu yang dibakar untuk wewangian". Keringat mereka seharum minyak misik". Mujahid berkata; 'al-Ibkar artinya awal fajar sedangkan al-'asyiyy condongnya matahari ke barat hingga akan terlihat akan terbenam".

No. Hadist: 3008
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Abu Bakr Al Muqaddamiy telah bercerita kepada kami Fudlail dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pasti akan masuk surga dari ummatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu orang, yang pertamakali tidak bakalan masuk hingga yang terakhir kali masuk (masuk secara berbarengan). Wajah-wajah mereka bagaikan bentuk bulan saat purnama".

No. Hadist: 3009
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Muhammad Al Ju'fiy telah bercerita kepada kami Yunus bin Muhammad telah bercerita kepada kami Syaiban dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas radliallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dihadiahi baju jubah terbuat dari sutera tipis padahal sebelumnya Beliau pernah melarang memakai sutera. Lalu orang-orang pun menjadi terkagum-kagum karenanya. Maka Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa'ad bin Mu'adz di surga lebih baik daripada ini".

No. Hadist: 3010
Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya bin Sa'id dari Sufyan berkata telah bercerita kepadaku Abu Ishaq berkata aku mendengar Al Bara'bin 'Azib radliallahu 'anhuma berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah berupa pakaian terbuat dari sutera lalu orang-orang terkagum-kagum dengan kebagusan dan kehalusan pakaian itu maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh sapu tangan Sa'ad bin Mu'adz di surga lebih baik dari ini".

No. Hadist: 3011
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idiy berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tempat cambuk di surga lebih baik dari pada dunia dan apa-apa yang ada diatasnya".

No. Hadist: 3012
Telah bercerita kepada kami Rauh bin 'Abdul Mu'min telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai' telah bercerita kepada kami Sa'id dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon yang jika para pengendara berjalan di bawah naungannya seratus tahun lamanya tidak akan dapat melewatinya".

No. Hadist: 3013
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sinan telah bercerita kepada kami Fulaih bin Sulaiman telah bercerita kepada kami Hilal bin 'Ali dari 'Abdur Rahman bin Abu 'Amrah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon yang jika bayangannya ditempuh oleh para pengendara, memerlukan waktu seratus tahun lamanya, bacalah firman Allah jika kamu mau", (QS al-Waqi'ah ayat 30) yang artinya ("Dan naungan yang terbentang luas"), dan ujung panah seseorang dari kalian di surga lebih baik daripada tempat matahari terbit atau terbenam".

No. Hadist: 3014
Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir telah bercerita kepada kami Muhammad bin Fulaih telah bercerita kepada kami bapakku dari Hilal dari 'Abdur Rahman bin ABi 'Amrah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Rombongan pertama yang memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rambongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya di langit. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah membenci dan saling hasad (iri) di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari bidadari yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik tulang dan daging".

No. Hadist: 3015
Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami Syu'bah berkata 'Adiy bin Tsabit telah mengabarkan kepadaku berkata aku mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Ketika Ibrahim Alaihissalam (putra Nabi Shallallahu'alaihiwasallam) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Baginya akan ada yang menyusuinya di surga".

No. Hadist: 3016
Telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah berkata telah bercerita kepadaku Malik bin Anas dari Shafwan bin Sulaim dari 'Atah' bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Penghuni surga memandang penghuni kamar-kamar dari atas mereka sebagaimana mereka memandang bintang kejora yang terbit di ufuk timur atau barat disebabkan keutamaan di antara mereka". Para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah itu tempat tinggal para Nabi yang tidak akan dimasuki oleh orang selain mereka?. Beliau bersabda: "Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, (tetapi juga menjadi tempat tingal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul".

KITAB SHAHIH BUKHARI : " Bab: Penjelasan tentang sifat surga dan neraka "

No. Hadist: 3001
Telah bercerita kepa da kami Ahmad bin Yunus telah bercerita kepada kami Al Laits dari Nafi' dari 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat tinggalnya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan melihat tinggalnya sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk neraka, maka akan melihat tempat tinggalnya sebagai penduduk neraka".

No. Hadist: 3002
Telah bercerita kepada kami Abu Al Walid telah bercerita kepada kami Salm bin Zarir telah bercerita kepada kami Abu Raja' dari 'Imran bin Husain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Aku mendatangi, surga maka kulihat kebanyakan penduduknya adalah para faqir dan aku mendatangi neraka maka aku lihat kebanyakan penduduknya para wanita".

No. Hadist: 3003
Telah bercerita kepada kami Sa'id bin Abu Maryam telah bercerita kepada kami Al Laits berkata telah bercerita kepadaku 'Uqail dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika Beliau bersabda: "Ketika aku tertidur, aku (bermimpi) diperlihatkan surga, di dalamnya ada seorang wanita yang sedang berwudlu' di sisi istana. Aku bertanya: "Untuk siapakah istana itu". Mereka menjawab; "Untuk 'Umar bin Al Khathab". Maka kuingat kecemburuannya lalu aku pun berlalu. Maka 'Umar menangis seraya berkata; "Apakah patut aku cemburu kepadamu wahai Rasulullah?".

No. Hadist: 3004
Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami Hammam berkata aku mendengar Abu 'Imran Al Iawniy dia bercerita dari Abu Bakr bin 'Abdullah bin Qais Al Asy'ariy dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "(Di surga) ada kemah bundar melengkung terbuat dari mutiara yang menjulang ke langit sepanjang tiga puluh mil pada setiap sisinya di sediakan untuk orang beriman sebagai penghuninya, orang yang lain tidak dapat melihat mereka". Abu 'Abdush Shamad dan Al Harits bin 'Ubaid berkata dari Abu 'Imran: "Panjangnya enam puluh mil".

No. Hadist: 3005
Telah bercerita kepada kami Al Humaidiy telah bercerita kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: "Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya dan terbetik dari lubuk hati manusia". Bacalah firman-Nya jika kamu mau (QS as-Sajadah 17) yang artinya ("Tidak seorangpun yang mengetahui apa yang telah disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata").

No. Hadist: 3006
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Muqatil telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rombongan pertama yang masuk surga rupa mereka seperti bentuk bulan saat purnama, mereka tidak akan pernah beringus, tidak meludah dan tidak pula membuang air besar (tinja). Alat perabot mereka di dalam surga terbuat dari emas, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak, lat penghnagtan mereka terbuat dari kayu cendana, keringat mereka seharum minyak misik. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri (bidadari) yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang".

No. Hadist: 3007
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Rombongan pertama yang memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rombongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah berselisih dan saling membenci di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri (bidadari) yang setiap istri itu sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang. Mereka tidak pernah sakit, tidak pernah beringus dan tidak pernah meludah. Perabotan mereka terbuat dari emas dan perak, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan tempat perapian mereka terbuat dari kayu cendana". Abu Al Yaman berkata; "Maksudnya kayu yang dibakar untuk wewangian". Keringat mereka seharum minyak misik". Mujahid berkata; 'al-Ibkar artinya awal fajar sedangkan al-'asyiyy condongnya matahari ke barat hingga akan terlihat akan terbenam".


No. Hadist: 3008
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Abu Bakr Al Muqaddamiy telah bercerita kepada kami Fudlail dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pasti akan masuk surga dari ummatku tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu orang, yang pertamakali tidak bakalan masuk hingga yang terakhir kali masuk (masuk secara berbarengan). Wajah-wajah mereka bagaikan bentuk bulan saat purnama".


No. Hadist: 3009
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Muhammad Al Ju'fiy telah bercerita kepada kami Yunus bin Muhammad telah bercerita kepada kami Syaiban dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas radliallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dihadiahi baju jubah terbuat dari sutera tipis padahal sebelumnya Beliau pernah melarang memakai sutera. Lalu orang-orang pun menjadi terkagum-kagum karenanya. Maka Beliau bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa'ad bin Mu'adz di surga lebih baik daripada ini".

No. Hadist: 3010
Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yahya bin Sa'id dari Sufyan berkata telah bercerita kepadaku Abu Ishaq berkata aku mendengar Al Bara'bin 'Azib radliallahu 'anhuma berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diberi hadiah berupa pakaian terbuat dari sutera lalu orang-orang terkagum-kagum dengan kebagusan dan kehalusan pakaian itu maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh sapu tangan Sa'ad bin Mu'adz di surga lebih baik dari ini".


No. Hadist: 3011
Telah bercerita kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah bercerita kepada kami Sufyan dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa'ad as-Sa'idiy berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tempat cambuk di surga lebih baik dari pada dunia dan apa-apa yang ada diatasnya".

No. Hadist: 3012
Telah bercerita kepada kami Rauh bin 'Abdul Mu'min telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai' telah bercerita kepada kami Sa'id dari Qatadah telah bercerita kepada kami Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon yang jika para pengendara berjalan di bawah naungannya seratus tahun lamanya tidak akan dapat melewatinya".

No. Hadist: 3013
Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Sinan telah bercerita kepada kami Fulaih bin Sulaiman telah bercerita kepada kami Hilal bin 'Ali dari 'Abdur Rahman bin Abu 'Amrah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya di surga ada sebuah pohon yang jika bayangannya ditempuh oleh para pengendara, memerlukan waktu seratus tahun lamanya, bacalah firman Allah jika kamu mau", (QS al-Waqi'ah ayat 30) yang artinya ("Dan naungan yang terbentang luas"), dan ujung panah seseorang dari kalian di surga lebih baik daripada tempat matahari terbit atau terbenam".

No. Hadist: 3014
Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir telah bercerita kepada kami Muhammad bin Fulaih telah bercerita kepada kami bapakku dari Hilal dari 'Abdur Rahman bin ABi 'Amrah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Rombongan pertama yang memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rambongan berikutnya yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya di langit. Hati mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah membenci dan saling hasad (iri) di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri dari bidadari yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik tulang dan daging".

No. Hadist: 3015
Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami Syu'bah berkata 'Adiy bin Tsabit telah mengabarkan kepadaku berkata aku mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Ketika Ibrahim Alaihissalam (putra Nabi Shallallahu'alaihiwasallam) meninggal dunia, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Baginya akan ada yang menyusuinya di surga".

No. Hadist: 3016
Telah bercerita kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah berkata telah bercerita kepadaku Malik bin Anas dari Shafwan bin Sulaim dari 'Atah' bin Yasar dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Penghuni surga memandang penghuni kamar-kamar dari atas mereka sebagaimana mereka memandang bintang kejora yang terbit di ufuk timur atau barat disebabkan keutamaan di antara mereka". Para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah itu tempat tinggal para Nabi yang tidak akan dimasuki oleh orang selain mereka?. Beliau bersabda: "Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, (tetapi juga menjadi tempat tingal) orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul"