Kamis, 04 Desember 2014

Kesedihan Nabi Saat Kematian Orang yang Dicintainya Namun Tidak disukai Meratapi Mayat

" Nabi Bersedih atas Kematian Orang yang di cintainya namun Tidak Disukai Meratapi Mayat "

Anas bin Malik r.a. berkata, "Kami masuk bersama Nabi pada Abu Saif al-Qain (si pandai besi), suami wanita yang menyusui Ibrahim (Putra Rasulullah). Lalu, Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya. Sesudah itu kami masuk kepadanya dan Ibrahim mengembuskan napas yang penghabisan. Maka, air mata Rasulullah mengucur. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, 'Engkau (menangis) wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Wahai putra Auf, sesungguhnya air mata itu kasih sayang.' Kemudian air mata beliau terus mengucur. Lalu beliau bersabda, 'Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami. Sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.'"

Anas bin Malik r.a. berkata, "Kami menyaksikan pemakaman putri Rasulullah. Ia berkata, 'Rasulullah duduk di atas kubur. Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang. Beliau bersabda, 'Apakah di antara kalian ada orang yang tidak mencampuri (berhubungan badan) istrinya tadi malam? Abu Thalhah berkata, 'Aku.' Beliau bersabda, 'Turunlah (ke dalam kuburnya).' Kemudian ia turun di kuburnya, lantas menguburnya.'

Usamah bin Zaid berkata, "Putri Nabi mengirimkan utusan kepada beliau. (Dalam satu riwayat: Aku berada di sisi Nabi, tiba-tiba datang utusan salah seorang putri beliau dengan membawa pesan) bahwa anaknya {cucu Rasulullah} meninggal (dalam satu riwayat: menghembuskan napas yang penghabisan , dan dalam riwayat lain: sampai ajalnya), maka datanglah kepadanya. Maka, beliau mengirimkan utusan untuk menyampaikan salam dan pesan, "Sesungguhnya bagi Allah apa yang diambil-Nya dan bagi-Nya apa yang diberikan-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya dengan waktu yang tertentu, maka (suruhlah ia ) bersabar dan mengharapkan pahala." Kemudian ia mengutus kepada beliau seraya bersumpah agar beliau mendatanginya. Lalu, Nabi saw berdiri bersama Sa'd bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, (Ubadah bin Shamit), dan beberapa orang lagi. Lalu dibawalah anak itu kepada Nabi (kemudian beliau dudukkan dia dipangkuan beliau), sedang napasnya tersengal-sengal seolah-olah girbah 'tempat air' dari kain usang yang kering, lalu kedua mata beliau berlinang. Sa'ad berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, apakah ini?" Beliau bersabda, "Ini adalah kasih sayang yang dijadikan oleh Allah dalam hati hamba-hamba Nya (yang dikehendaki-Nya), dan Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang."

Al-Mughirah berkata, "Aku mendengar Nabi bersabda, 'Sesungguhnya berdusta atasku tidaklah seperti berdusta atas seseorang yang lain. Barangsiapa yang berdusta atasku, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka.' Aku (Mughirah) mendengar Nabi bersabda pula, 'Barangsiapa yang diratapi, maka ia disiksa sebab diratapi itu.'"

Abdullah (bin Mas'ud) r.a. mengatakan bahwa Nabi saw bersabda, "Bukan dari golongan kami orang yang menampar-nampar (dalam satu riwayat: memukul-mukul) pipi, merobek leher baju, dan berseru dengan seruan jahiliah."
Aisyah r.a. berkata, "Ketika berita terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja'far (bin Abu Thalib)-sepupu Rasulullah , dan Abdullah Ibnu Rawahah sampai kepada Nabi, beliau duduk dengan tampak susah, dan aku melihat dari balik pintu. Lalu, datanglah seorang laki-laki seraya mengatakan, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri Ja'far meratapi kematian suaminya. Lalu, beliau menyuruh untuk melarang mereka, maka laki-laki itu pergi. Kemudian datanglah ia (untuk kedua kalinya) seraya berkata, 'Aku telah melarang tetapi mereka tidak menaatinya.' Beliau menyuruhnya lagi untuk melarangnya. Kemudian lelaki itu pergi (untuk melarangnya). Lalu, ia datang lagi (untuk ketiga kalinya) seraya berkata, 'Demi Allah, mereka mengalahkanku atau mengalahkan kami-keraguan ini dari Muhammad bin Abdullah bin Hausyab-wahai Rasulullah.' Maka, aku menduga bahwa beliau bersabda, 'Taburkanlah debu ke dalam mulut mereka.' Aku berkata, 'Kepastian Allah atas kamu. Demi Allah, engkau tidak mengerjakan apa yang diperintahkan Rasulullah kepadamu, dan engkau tidak berusaha menghilangkan kesedihan Rasulullah.'"
Abdullah bin Umar r.a. berkata, "Sa'ad bin Ubadah mengeluhkan sakitnya. Lalu Nabi datang menjenguknya bersama Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas'ud. Ketika beliau masuk kepadanya, ia sedang dikerumuni keluarganya. Nabi bertanya, 'Sudah meninggal?' Mereka menjawab, 'Belum wahai Rasulullah.' Lalu Nabi menangis. Ketika orang-orang melihat beliau menangis, mereka pun menangis pula. Beliau bersabda, 'Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak menyiksa karena air mata dan hati yang sedih, tetapi Allah menyiksa atau mengasihani karena ini.' Seraya menunjuk ke lidah beliau, 'Sesungguhnya mayat itu disiksa karena tangis keluarganya atas mayit itu.' Umar biasa memukul orang yang menangisi mayat dengan tongkat, melemparnya dengan batu, dan menaburkan debu padanya."
Aisyah r.a., istri Nabi saw., berkata, "Nabi melewati seorang wanita Yahudi yang ditangisi oleh keluarganya. Lalu, beliau bersabda, 'Sesungguhnya mereka menangisinya, dan sesungguhnya ia sedang disiksa di dalam kuburnya.'"
Abu Burdah dari Ayahnya, berkata, "Ketika Umar terkena musibah, maka Shuhaib berkata, 'Aduhai saudaraku!' Kemudian Umar berkata, 'Apakah engkau tidak mengetahui bahwa Nabi bersabda, 'Sesungguhnya mayat itu di siksa karena ditangisi orang yang hidup.'

Shahih Bukhari Bab Kitab Haji

RINGKASAN SHAHIH BUKHARI : " Kitab Haji "

" Wajib Haji dan Keutamaannya "
Firman Allah, "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam."(Ali Imran: 97)

" Keutamaan Haji Mabrur "

Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'"

Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur." (Dalam satu riwayat: Rasulullah ditanya oleh istri-istri beliau tentang haji, lalu beliau bersabda, "Sebaik-baik jihad adalah haji." 3/221)

Abu Hurairah r.a. berkata, "Saya mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang haji (ke Baitullah 2/209) karena Allah, ia tidak berkata kotor dan tidak fasik (melanggar batas-batas syara'), maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.'"

" Talbiyah "

Aisyah r.a. berkata, "Sungguh aku mengetahui bahwa Nabi mengucapkan talbiyah, yaitu:

'Labbaikallaahumma labbaika, labbaika laasyariika laka labbaika, innal hamda wanni'mata laka'

'Kami penuhi pangilan-Mu, ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu. Kami penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kami penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji dan kenikmatan adalah bagi-Mu'."

" Khuthah Rasulullah Pada Hari haram (suci) "

Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah berkhutbah pada hari nahar. Beliau bersabda, "Wahai sekalian manusia! Hari apakah ini?" Para sahabat menjawab, "Hari haram (suci)." Beliau bersabda, "Negeri apakah ini?" Para sahabat menjawab, "Negeri haram (suci)." Beliau bersabda, "Bulan apakah ini?" Para sahabat menjawab, "Bulan haram (suci)." Beliau bersabda, "Sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram atasmu semua, sebagaimana kesucian hartamu ini, negerimu ini, dan bulanmu ini." Kata-kata itu beliau ucapkan berulang-ulang. Kemudian beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, "Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan?" Ibnu Abbas berkata, "Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya. Sesungguhnya khutbah beliau itu merupakan wasiat bagi seluruh umatnya." (Nabi meneruskan) sabdanya, "Oleh karena itu, hendaklah yang hadir ini menyampaikan kepada yang tidak hadir. Janganlah kamu menjadi kafir kembali (dalam satu riwayat: murtad) sesudahku, yaitu sebagian kamu memukul kuduk sebagian yang lain (kamu berkelahi sesamamu)."


HADITS PILIHAN HARI INI.
"Seutama-utam islam seseorang, selamat dari afaat (bahayanya) lisan & perbuatan tangan."

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺳَﻌِﻴﺪُ ﺑْﻦُ ﻳَﺤْﻴَﻰ ﺑْﻦِ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﺍﻟْﻘُﺮَﺷِﻲُّ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑِﻲ ﻗَﺎﻝَ ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺃَﺑُﻮ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﺑْﻦُ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﺃَﺑِﻲ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺑُﺮْﺩَﺓَ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻣُﻮﺳَﻰ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﻗَﺎﻝَ
ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻱُّ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡِ ﺃَﻓْﻀَﻞُ ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﺳَﻠِﻢَ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮﻥَ ﻣِﻦْ ﻟِﺴَﺎﻧِﻪِ ﻭَﻳَﺪِﻩِ
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Qurasyi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami bapakku berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Abu Burdah bin Abdullah bin Abu Burdah dari Abu Burdah dari Abu Musa berkata: 'Wahai Rasulullah, Islam manakah yang paling utama?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Siapa yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya". [Shahih Bukhori]

Selasa, 02 Desember 2014

Do'a Nabi saw Dan Kesabaran Beliau dalam Siksaan Orang Munafik

" Doa Nabi saw. dan kesabaran beliau menanggung siksaan orang-orang munafik "

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra.:
Bahwa Nabi saw. pernah menunggangi seekor keledai berpelana yang di bawahnya terdapat sepotong selimut tua buatan Fadak sambil membonceng Usamah di belakangnya untuk menjenguk Sa`ad bin Ubadah di perkampungan Bani Harits bin Khazraj sebelum perang Badar. Hingga lewatlah beliau di hadapan sekelompok orang-orang campuran terdiri dari kaum muslimin, kaum musyrikin penyembah berhala dan orang-orang Yahudi. Di antara mereka terdapat Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Rawahah. Ketika sekumpulan orang itu (majelis) telah penuh diselubungi debu bekas gerak tapak kaki binatang, menutuplah Abdullah bin Tuhanmu hidungnya dengan kain serban sambil berucap: Janganlah kamu sekalian menerbangkan debu-debu ke sekeliling kita! Kemudian Nabi saw. segera mengucapkan salam kepada mereka lalu berhenti menuruni keledainya untuk mengajak mereka beriman kepada Allah serta membacakan kepada mereka ayat-ayat Alquran. Berkatalah Abdullah bin Ubay: Hai, tidak adakah yang lebih baik dari ini! Jika benar apa yang kamu katakan, maka janganlah kamu mengganggu kami dalam majelis ini, serta kembalilah ke rumahmu dan jika ada dari kami yang datang kepadamu, maka ceritakanlah kepadanya. Abdullah bin Rawahah lalu berkata: Datanglah dalam majelis kami ini, karena kami menyukai hal itu. Setelah itu kaum muslimin, kaum musyrikin serta orang-orang Yahudi saling mencaci-maki hingga mereka hampir saling berbaku-hantam sedangkan Nabi saw. terus berusaha menenangkan mereka. Kemudian beliau segera menunggangi keledainya sampai tiba di tempat Sa`ad bin Ubadah. Lalu beliau berkata: Wahai Sa`ad, apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Hubab (yang beliau maksud adalah Abdullah bin Ubay). Ia berkata begini dan begini? Sa`ad menjawab: Maafkanlah ia, wahai Rasulullah! Sekali lagi maafkanlah! Demi Allah, Allah telah memberikan kepada engkau apa yang telah Ia berikan. Sesungguhnya penduduk Madinah ini sudah sepakat untuk memberikannya mahkota kepemimpinan serta mengangkatnya sebagai raja. Lalu ketika Allah menghalangi hal itu dengan misi kebenaran yang telah diberikan-Nya kepadamu, menjadi bencilah ia sehingga ia melakukan apa yang telah engkau saksikan. Nabi pun lalu memaafkannya. (Shahih Muslim No.3356)

Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Dikatakan kepada Nabi saw.: Bagaimana kalau engkau datang menemui Abdullah bin Ubay? Bertolaklah beliau menemuinya di tanah lapang yang gundul dengan menunggang seekor keledai diikuti oleh beberapa orang kaum muslimin. Saat Nabi saw. tiba di hadapannya, ia berkata: Menjauhlah dariku, demi Allah, bau busuk keledaimu sangat menggangguku! Berkatalah seorang lelaki Ansar: Demi Allah, keledai Rasulullah saw. adalah lebih harum baunya dari dirimu. Marahlah seorang lelaki lain dari kaum Abdullah untuk membelanya, sehingga pengikut masing-masing marah untuk membela keduanya bahkan terjadilah baku-hantam di antara mereka dengan pelepah kurma, tangan serta sandal. Lalu sampailah kepada kami bahwa ayat ini turun menyinggung tentang mereka: Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. (Shahih Muslim No.3357)

Siksaan yang Diderita Rasulullah saw. Dari Musyrikin Dan Munafikin

" Siksaan yang diderita Rasulullah saw. dari pihak musyrikin dan munafikin "

Hadis riwayat Ibnu Mas`ud ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. sedang salat di dekat Kakbah dan Abu Jahal beserta kawan-kawannya sedang duduk padahal sehari sebelumnya unta kurban telah disembelih. Berkatalah Abu Jahal: Siapakah di antara kamu sekalian yang mau beranjak ke kotoran unta Bani fulan itu lalu mengambilnya dan meletakkannya di atas kedua pundak Muhammad sewaktu ia sujud? Bangkitlah seorang yang paling jahat di antara mereka dan segera mengambil kotoran itu. Di saat Nabi saw. bersujud, ia meletakkan kotoran itu di atas kedua pundak beliau. Lalu mereka pun tertawa terpingkal-pingkal sambil satu sama lain saling melirik sedangkan aku berdiri menyaksikan kejadian itu. Seandainya aku mempunyai kekuatan, niscaya akan aku buang kotoran itu dari punggung Rasulullah saw. Rasulullah saw. tetap saja masih bersujud, tidak mengangkat kepalanya hingga seorang lelaki untuk mengabarkan kepada Fatimah. Kemudian datanglah Fatimah, yang saat itu masih gadis kecil, membuang kotoran dari tubuh beliau lalu menghampiri ke arah mereka sambil mencaci-maki. Setelah Nabi saw. selesai salat, beliau mengangkat suara kemudian berdoa memohon bencana atas mereka. Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga kali dan jika memohon, juga memohon tiga kali. Kemudian beliau bersabda: Ya Allah, aku serahkan kepadamu orang-orang kafir Quraisy tersebut. Doa ini beliau baca tiga kali. Ketika mendengar suara Nabi saw. itu, terhentilah tawa mereka. Mereka benar-benar merasa takut akan doa beliau tersebut. Kemudian Nabi saw. berdoa lagi: Ya Allah, aku serahkan kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi`ah, Syaibah bin Rabi`ah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu`aith (yang ketujuh aku tidak ingat namanya). Demi Tuhan Yang mengutus Muhammad saw. dengan membawa kebenaran. Sungguh aku melihat orang-orang yang beliau sebutkan itu semua terbunuh dalam perang Badar. Kemudian jasad mereka diseret ke dalam sumur tua, yaitu sumur tua yang ada di Badar. (Shahih Muslim No.3349)

Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw.:
Bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: Wahai Rasulullah, apakah engkau pernah mengalami suatu hari yang lebih pedih dari hari perang Uhud? Rasulullah saw. menjawab: Aku sering mendapatkan (sesuatu yang menyakitkan) dari kaummu. Dan yang paling menyakitkan adalah peristiwa hari Aqabah, ketika aku sedang mengajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut ajakan yang aku inginkan. Aku pun segera beranjak pergi dengan hati sedih dan tidak sadar diri kecuali setelah tiba di daerah Qarnu Tsa`alib. Aku lalu menengadahkan kepalaku ke arah langit, tiba-tiba tampaklah segumpal awan menaungiku. Aku pun menatapnya, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku kemudian berkata: Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Dan Allah telah mengutus malaikat gunung kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan atas mereka. Lalu malaikat gunung berseru kepadaku serta mengucapkan salam dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu dan aku adalah malaikat gunung yang telah diutus Tuhanmu kepadamu agar kamu dapat memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu dan dengan apa yang kamu inginkan. Jika kamu menginginkan, aku dapat menimpahkan mereka dengan dua gunung itu. Rasulullah saw. lalu menjawab: Tidak, bahkan aku berharap semoga Allah melahirkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata serta tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun. (Shahih Muslim No.3352)

Hadis riwayat Jundub bin Sufyan ra., ia berkata:
Pernah jari tangan Rasulullah saw. terluka berdarah dalam suatu pertempuran. Kemudian beliau bersabda: Kamu hanyalah sebuah jari yang telah berdarah, dan di jalan Allah kamu menemui ini. (Shahih Muslim No.3353)

Hadis riwayat Jundub ra., ia berkata:
Telah cukup lama Jibril tidak turun membawa wahyu kepada Rasulullah saw., lalu kaum musyrikin berkata: Muhammad telah ditinggalkan. Maka Allah kemudian menurunkan firman-Nya: Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu. (Shahih Muslim No.3354)

Perang Uhud

" Perang Uhud "

Hadis riwayat Sahal bin Sa`ad ra.:
Bahwa dia ditanya tentang luka Rasulullah saw. dalam perang Uhud, Sahal menjawab: Wajah Rasulullah saw. terluka, gigi seri beliau patah serta topi perang beliau juga hancur. Fatimah putri Rasulullah saw. lalu membersihkan darah beliau sementara Ali bin Abu Thalib menuangkan air ke atas luka dengan menggunakan perisai. Ketika Fatimah melihat ternyata air hanya menambah pendarahan, ia lalu mengambil sepotong tikar dan membakarnya hingga menjadi abu. Kemudian Fatimah menempelkan abu tersebut pada luka beliau hingga berhentilah aliran darah itu. (Shahih Muslim No.3345)

Hadis riwayat Abdullah bin Mas`ud ra., ia berkata:
Seakan-akan aku melihat Rasulullah saw. tengah mengisahkan kisah seorang nabi yang dipukul oleh kaumnya sambil beliau mengusap darah dari wajahnya dan berdoa: Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (Shahih Muslim No.3347)

Shahih Al Adab Al Mufrad Imam Bukhari- Tubuh yang wangi

Shahih Al Adab Al Mufrad Imam Bukhari.

- Tubuh yang Wangi -

Dari Abdullah ibnu Khubaib Al Juhani, dari pamannya. Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui mereka dan masih terlihat bekas mandi. Beliau tubuhnya wangi, sehingga kami kira bahwasanya beliau telah mendatangi (berkumpul dengan) istrinya, lalu kami bertanya, "Wahai Rasululah! kami mencium wangi tubuhmu?," Nabi menjawab, "Tentu, Alhamdulillah." Kemudian menyampaikan tentang kekayaan, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, " Sesungguhnya kekayaan itu diperbolehkan bagi orang yang bertakwa, tetapi kesehatan lebih baik dari kekayaan bagi orang yang bertakwa dan tubuh yang wangi adalah bagian dari nikmat yang diberikan (Allah)."

Shahih, di dalam kitab Ash-Shahihah (174)

Ciri Ciri Nabi saw Shahih Sunan Tirmdizi

Shahih Sunan Tirmdizi :

- Ciri-ciri Nabi SAW

Mahmud bin Ghailan menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Al Bara' ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seseorang dalam rombongan yang memakai baju merah lebih baik daripada Rasulullah SAW. Beliau mempunyai rambut sampai ke kedua pundaknya, jauh jarak antara kedua pundahknya, beliau bukanlah seorang yang pendek dan bukan seorang yang jangkung." Shahih: Muttafaq alaih.

Sufyan bin Waki' menceritakan kepada kami, Humaid bin Abdurrahman menceritakan kepada kami, Zuhair menceritakan kepada kami dari Abu Ishaq, ia berkata: Seorang lelaki bertanya kepada Al Bara', "Apakah wajah Rasulullah itu (tajam) seperti pedang?" Al Bara' menjawab, "Tidak, (melainkan) seperti bulan." Shahih: Mukhtashar Asy-Syama'il (9); Al Bukhari.

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, Al Mas'udi menceritakan kepada kami dari Utsman bin Muslim bin Hurmuz, dari Nafi' bin Jubair bin Muth'im, dari Ali, ia berkata: Rasulullah bukanlah seorang yang jangkung dan bukan (pula) seorang yang pendek. —Beliau adalah— seorang yang kasar kedua telapak tangan dan telapak kaki, kepala besar, tulang pusat besar. rambut dada panjang. dan apabila beliau berjalan maka beliau (agak) condong ke depan. seolah sedang turun ke tempat yang lebih rendah. Aku tidak pernah melihat ada orang yang seperti beliau. (baik) sebelum maupun sesudahnya." Shahih

- Tutur Kata Nabi SAW

Humaid bin Mas'ud menceritakan kepada kami, Humaid bin Al Aswad menceritakan kepada kami, dari Usamah bin Zaid, dari Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah berbicara dengan tergesa-gesa sebagaimana tergesa-gesanya kalian ini. Akan tetapi, beliau berbicara dengan tutur kata yang jelas, yang dapat dihapal oleh orang yang duduk di hadapannya." Muttafaq alaih

Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Abu Qutaibah Salm bin Qutaibah menceritakan kepada kami, dar. Abdullah bin Al Mutsanna, dari Tsumamah, dari Anas bin Malik berkata, "Rasulullah SAW selalu mengulangi kalimat sebanyak tiga kali agar dapat dipahami." Hasan shahih'.

- Keceriaan Wajah Nabi SAW

Qutaibah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi'ah menceritakan kepada kami dari Ubaidullah bin Al Mughirah, dari Abdullah bin Al Harits bin Jaz'u, ia berkata, "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah SAW." Shahih

Hadits itu juga diriwayatkan kepada kami oleh Ahmad bm Khalid Al Khallal, Yahya bin Ishaq Sailahani menceritakan kepada kami. Al-Laits bin Sa'ad menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abu Habib, dari Abdullah bin Harits bin Jaz'in, ia berkata, "Tidaklah Rasulullah SAW tertawa kecuali hanya berupa senyuman." Shahih

- Stempel Kenabian (Khatam An-Nubuwwah )

Qutaibah menceritakan kepada kami, Hatim bin Isma'il menceritakan kepada kami dari Al Ja'ad bin Abdurrahman, ia berkata: Aku mendengar Sa'ib bin Yazid berkata, "Bibi dari pihak ibuku membawa aku kepada nabi, kemudian ia berkata, 'Ya Rasulullah, sesungguhnya anak dari saudariku (keponakan) berpenyakit' Beliau kemudian mengelus kepalaku dan mendo'akan berkah untukku. Ia kemudian berwudhu dan aku minum air wudhunya. Aku kemudian berdiri di belakangnya, lalu melihat stempel kenabian di antara kedua pundaknya. Ternyata stempel itu seperti kancing burung puyuh (maksudnya telurnya)." Shahih:

- Ciri-ciri Nabi SAW

Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Abu Qathan menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata, "Nabi SAW lebar mulutnya, lebar dahan kedua matanya, dan sedikit daging tumitnya." Shahih

Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Simak bin Harb, dari Jabir bin Samurah, ia berkata, "Rasulullah SAW itu lebar mulut, lebar dahan kedua mata, dan sedikit daging tumit." Syu'bah berkata, "Aku pemah berkata kepada Simak, 'apa arti dhali'al fam?' Ia menjawab, 'Lebar mulutnya.' Aku bertanya, 'apa arti asykal al ainain?' Ia menjawab, 'Panjang dahan matanya?' Aku berkata, 'apa arti manhusy al iqab?' Ia menjawab, 'Sedikit daging(nya)'." Shahih

Qutaibah menceritakan kepada kami, Laits menceritakan kepada kami, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir, bahwa Rasulullah SAW bersabda. "Para nabi diperlihatkan kepadaku, dan ternyata Musa adalah sejenis lelaki (kurus), seolah ia termasuk golongan syanu'ah (golongan Abdullah bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Widhar bin Al Aza) Aku melihat Isa bin Maryam, dan ternyata orang yang paling mirip (dengannya) dari orang yang pernah aku lihat adalah Urwah bin Mas'ud.' Aku melihat Ibrahim, dan ternyata orang yang paling mirip dengannya adalah temanmu -maksudnya adalah nabi sendiri. Aku melihat Jibril, dan ternyata orang yang paling mirip (dengannya) dari orang yang pernah aku lihat adalah Dahiyah -yaitu Ibnu Khalifah Al Kalbi." Shahih

- Umur Nabi dan Usia Berapa Beliau Meninggal

Ahmad bin Mani' menceritakan kepada kami, Rauh bin Ubadah menceritakan kepada kami, Zakariya bin Ishaq menceritakan kepada kami, Amr bin Dinar menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Nabi SAW menetap di Makkah selama tiga belas tahun —maksudnya— untuk menerima wahyu, dan beliau wafat ketika berusia enam puluh tiga tahun." Shahih Muttafaq alaih.

Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, Syu'bah menceritakan kepada kami, dari Abu Ishaq, dari Amir bin Sa'ad, dari Jarir bin Abdullah, dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan berkata. Jarir berkata: Aku mendengar Abu Sufyan berkata, "Rasulullah meninggal dunia ketika beliau berusia enampuluh tiga tahun. Juga Abu Bakar dan Umar. Aku pada usia enam puluh tiga tahun." Shahih

Al Abbas Al Anbari dan Al Husain bin Mahdi menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abdurrazaq menceritakan kepada kami dari Ibnu Juraij, ia berkata: Aku dikabari dari Ibnu Syihab Az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah —Husain bin Mahdi berkata dalam hadusnya: Ibnu Juraij—, dari Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah: bahwa Nab: SAW wafat ketika beliau berusia enam puluh tiga tahun. Shahih mutafaq alaih.

- Keutamaan Nabi SAW

Khallad bin Aslam menceritakan kepada kami. Muhammad bm Mush'ab menceritakan kepada kami. Al Auza'i mencerr.akan kepada kami, dari Abu Ammar. dari Wa'ilah bin Al Aqsa —ra—. ia berkata: Rasulullah SAW bersabda. "Sesungguhnya Allah telah memilih Ismail dari keturunan Ibrahim. telah memilih Bani Kinanah dan keturunan Ismail. telah memilih suku Quraiss dari Bani Kinanah. telah memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan telah memilihku dari Bani Hasyim. " Shahih

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Abdurrahman Ad-Damsyiqi menceritakan kepada kami, Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, Al Auza'i menceritakan kepada kami, Syadad bin Ammar menceritakan kepadaku, Wa'ilah bin Al Asqa' menceritakan kepadaku, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma'il, telah memilih suku Quraisy dari Kinanah, telah memilih Hasyim dari suku Quraisy, dan telah memilihku dari Bani Hasyim. " Shahih

Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abu Amir Al Aqadi menceritakan kepada kami, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Ath-Thufail bin Ubai bin Ka'ab, dari ayah Ath-Thufail yaitu Ubay bin Ka'ab, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan (diri)ku di antara para nabi adalah seperti orang yang membangun rumah, kemudian ia memperbaiki, menyempurnakan, dan memperindah rumah tersebut, —namun— ia meninggalkan satu tempat untuk sebuah batu. Orang-orang kemudian mengelilingi bangunan itu dan merasa kagum terhadapnya. Mereka berkata, 'Seandainya —rumah itu— sempurna —hingga— tempat batu bata itu. ' Dan aku di antara para nabi adalah (seperti) tempat batu bata itu'. " Shahih Muttafaq alaih,

Muhammad bin Isma'il menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yazid Al Muqri menceritakan kepada kami, Haiwah menceritakan kepada kami, Ka'ab bin Alqamah mengabarkan kepada kami bahwa dirinya mendengar dari Abdurahman bin Jubair: ia mendengar dari Abdullah bin Amr: ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Apabila kalian mendengar (suara) muadzin, maka katakanlah (oleh kalian) seperti apa yang ia katakan. Lalu bacalah shalawat kepadaku. Barang siapa yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membaca sepuluh shalawat untuknya. Lalu mintalah wasilah kepada Allah untuk diriku. Sesungguhnya wasilah adalah sebuah derajat di dalam surga yang tidak semestinya —diberikan— kecuali hanya untuk seorang hamba di antara hamba-hamba-Nya. Aku berharap, akulah yang akan menjadi hamba tersebut. Barang siapa yang memohon wasilah untukku, maka wajib baginya syafaat. " Shahih

Ibnu Abu Umar menceritakan kepada kami, sufyan menceritakan kepada kami, Ibnu Jad'an menceritakan kepada kami, dari Abu Nadhrah, dari Abu Sa'id, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, "Aku adalah pemimpin umat manusia pada hari kiamat. —namun aku— tidak sombong. Ditanganku ada bendera putih —namun aku— tidak sombong. Tidaklah seorang nabi pada hari itu, —mulai dari— Adam kemudian yang lainnya, kecuali mereka akan berada di bawah benderaku. Aku adalah orang pertama yang untuknya, bumi (kuburan/makam) akan dibelah, —namun aku— tidak sombong. " Shahih