Jumat, 28 November 2014

Kitab An- Nawadir Tentang Niat Yang baik Dan Tulus

NIAT YANG BAIK DAN TULUS.
Dinukil dari kitab An Nawadir Syeh Syihabuddin Al Qolyuby

Dikisahkan bahwa pada suatu malam sekawanan perampok keluar utk merampok rombongan pedagang. Malam itu mereka mendatangi sebuah gubug dan rencananya akan mereka jadikan sebagai tempat menginap.Mereka lalu mengetuk pintu gubug tersebut dan berkata :
" Kami adalah para mujahid yg habis berperang dan ingin menginap di tempatmu."
Begitu mendengar pengakuan mereka, tanpa curiga pemilik gubug tsb membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Pemilik gubug itu melayani semua kebutuhan mereka dgn sepenuh hati. Dengan itu dia berharap bisa mendekatkan diri kpd Allah dan mendapatkan barokah dngan melayani para mujahid.

Pemilik gubug tsb mempunyai seorang anak laki2 yg lumpuh dan tdk bisa berdiri.
Lalu pemilik gubug mengambil sisa minuman kawanan perampok yg mengaku sbg mujahid tersebut dan berkata kpd istrinya :
" usapkanlah sisa minuman ini ketubuh anak kita, semoga dgn barokah para mujahid ini dia bisa sembuh ."
Dan sitrinya pun melakukan semua perintah suaminya.

ketika menjelang pagi, para perampok itu keluar dan bergerak ke suatu daerah utk merampok, sore harinya mereka kembali ketempat tsb dngan membawa hasil rampokan mereka.
Ketika sampai disana, mereka melihat anak laki2 dari pemilik gubug itu telah bisa berjalan dgn tegak. Mereka heran,lalu mereka bertanya kepada pemilik gubug itu :
" ini anak yg kemaren kami lihat tdk bisa berdiri ?"
" iya, saya mengambil sisa2 minuman kalian semua dan saya usapkan ketubuhnya, dan Alhamdulilah dengan barokah kalian dia sembuh ."
jawab pemilik gubug dengan penuh syukur.

Mendengar itu mereka tersentak dan langsung menangis sambil berkata kpd pemilik gubug :
" ketahuilah, sebenarnya kami bukan mujahid melainkan kawanan penyamun yg keluar utk merampok, Allah menyembuhkan anakmu karena niatmu yg baik dan tulus. Sejak saat ini kami bertaubat kpd Allah ."
Setelah kejadian itu mereka kemudian bertaubat dan benar2 menjadi pejuang dan mujahid dijalan Allah ta'ala sampai mereka meninggal dunia.

Wallohu a'lam

النوادر
للشيخ شهاب الدين القليوبي

رَبِّ اغْفِرْ لَنا، وَتُبْ عَلَيْنا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ

Yaa Allah ..
ampunilah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau Maha penerima Taubat ...

Aamiin

Tidak Dibenarkan Jika Tidak Perlu Bermadzhab dalam Beragama

 Tidak dibenarkan jika beranggapan, "Tidak perlu bermadzhab dalam beragama."
Mengapa harus bermadzhab?

MENGAPA HARUS BERMADZHAB
Oleh: Firman Wahyudi.

Mengapa harus bermadzhab?
Kalaw boleh mengoreksi pertanyaan ini, maka yang lebih tepat adalah mengapa kita harus bermadzhab empat?
Jawab
Al Qur’an jauh.. jauh hari telah menjawab, pertanyaan ini.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء [21]: 7)
Artinya: “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 7)
Ayat ini, secara spesifik telah menjelaskan tanyalah kepada orang yang ahli, dalam perkara yang kalian tidak mengetahui kebenaran-nya?

Sedangkan orang yang ahli dalam ilmu agama, kalaw dipersempit adalah para mujtahid, suatu kesalahan yang fatal, jika beranggapan bahwa dia mampu ber-istinbath langsung pada Al Qur’an dan Hadits, tanpa memandang Ulama terdahulu. Atau sebagian kelompok dari golongan tertentu yang mengatakan “kembali ke-Al Qur’an & Hadits..” pernyataan ini, adalah pertanyaan yang bodoh, seakan mereka menganggap para Ulama terdahulu, salafuna saleh tidak ber-jtihad dengan Al Qur’an & Hadits.
Sementara sejarah berbicara, bahwa pada masa kini sudah tidak ditemukan seorangpun yang mencapai posisi mujtahid. Bahkan Ibnu Hajar menegaskan, bahwa setelah priode asy-Syafi’i tidak pernah ditemukan lagi seorang mujtahid muthlaq atau mujtahid mustaqil.

Sebenarnya, madzhab yang boleh diikuti tidak terbatas pada empat saja. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Sayyid Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah:”Sebenarnya yang boleh diikuti itu tidak hanya terbatas pada empat madzhab saja. Bahkan masih banyak madzhab ulama (selain madzhab empat) yang boleh diikuti, seperti madzhab Sufyan ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Ishaq bin Rahawaih, Daud azh-Zhahiri dan al-Auza’i [Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59].
Namun mengapa yang diakui serta diamalkan oleh golongan kami, yaitu “Ahlussunnah wal-jamaah” hanya empat madzhab saja? Sebenarnya, yang menjadi salah satu faktor adalah tidak lepas dari murid beliau-beliau yang kreatif, yang membukukan pendapat-pendapat imam mereka sehingga semua pendapat imam tersebut dapat terkodifikasi dengan baik, akhirnya validitas dari pendapat-pendapat tersebut tidak diragukan lagi. Di samping itu, madzahibul arba’ah ini telah teruji keshalihannya sepanjang sejarah, sebab memiliki metode istinbat yang jelas dan sistematis, sehingga dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Sebagaimana masih ditegaskan oleh Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah: “Sekelompok ulama dari kalangan ashhab kita (ashhâbina) mengatakan, bahwa tidak diperbolehkan bertaklid kepada selalin madzhab yang empat, karena selain yang empat itu jalur periwayatannya tidak valid, sebab tidak ada sanad (mata rantai) yang bisa mencegah dari kemungkinan adanya penyisipan dan perubahan. Berbeda dengan madzhab yang empat. Para tokohnya telah mengerahkan kemampuannya untuk meneliti setiap pendapat serta menjelaskan setiap sesuatu yang memang pernah diucapkan oleh mujtahind-nya, atau yang tidak pernah dikatakan, sehingga para pengikutnya merasa aman dari terjadinya perubahan, distorsi pemahaman, serta meraka juga mengetahui pandapat yang shahih dan yang lemah.” [Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hlm 59]
Selain pendapat Sayyid ‘Alawi bin Ahmad as-Seggaf dalam Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah diatas, Ulama sebelumnya juga telah membahas tentang perlu-nya, bermadzhab.

۞ Syeh Muhammad Amin Alkurdy Annaqsyabandy, dalam kitab beliau Tanwiru Al Qulub mengatakan;
وَمَنْ لَمْ يُقَلِّدُ وَاحِدًا مِنْهُمْ، وَقَالَ أَنَا أَعْمَلُ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ مُدَعِّيًا فَهْمَ الْأَحْكَامِ مِنْهُمَا فَلَا يُسَلِّمُ لَهُ، بَلْ هُوَ مُخْطِئٌ، ضَالٌّ مُضِلٌّ سِيَّمَا فِي هَذَا الزَّمَانِ، اَلَّذِيْ عَمَّ فِيْهِ الْفُسُقُ وَكَثُرَتْ الدَّعْوَى الْبَاطِلَةَ لِأَنَّهُ اسْتَظَهَرَ عَلَى أَئِمَّةِ الدِّيْنِ وَهُوَ دُوْنَهُمْ فِي الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ وَالْعَدَالَةِ وَاْلإِطْلَاعِ.
Artinya: "Dan barangsiapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata "saya beramal berdasarkan alQuran dan hadits", dan mengaku telah memahami hukum-hukum alquran dan hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa". [Tanwiir Al Qulub 74-75]

۞Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho Ad-Dimyathi As-Syafi'I, dalam kitab-nya I’anatu At Thalibin mengatakan;
كُلٌّ مِنَ الْأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ عَلَى الصَّوَابِ، وَيَجِبُ تَقْلِيْدُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ، وَمَنْ قَلَّدَ وَاحِدًا مِنْهُمْ خَرَجَ مِنْ عِهْدَةِ التَّكْلِيْفِ وَعَلَى الْمُقَلِّدِ أَرْجِحِيّةٌ مَذْهَبَهُ أَوْ مُسَاوَاتُهُ. وَلَايَجُوْزُ تَقْلِيْدُ غَيْرِهِمْ فِى إِفْتَاءٍ أَوْ قَضَاءٍ. قَالَ اِبْنُ حَجَرْ وَلَايَجُوْزُ الْعَمَلُ بِالضَّعِيْفِ بِالْمَذْهَبِ وَيَمْتَنِعُ التَّلْفِيْقُ فِى مَسْأَلَةٍ كَأَنْ قَلَّدَ مَالِكًا فِى طَهَارَةِ الْكَلْبِ وَالشَّافِعِىْ فِى مَسْحِ بَعْضِ الرَّأْسِ (إعانة الطالبين, الجزء 1 الصفحة 17)
Artinya: "Setiap imam empat itu.. berjalan dijalan yang benar, maka wajiblah bagi umat islam untuk bertaqlid kepada salah satu diantara empat, sebab orang yang sudah bertaqlid kepada salah satu imam madhzhab empat tersebut, maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan, dan orang yang bertaqlid haruslah yakin bahwqa madzhab yang ia ikuti itu benar dan sama benarnya dengan yang lain serta tidak boleh bertaqlid kepada madzhab lain selain madzhab yang ia ikuti, seperti apa yang dikatakan oleh ibnu hajar alhaitami: tidak boleh seseorang yang menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yang ringan-ringan) misalnya mengikuti imam malik yang mensucikan anjing dan juga mengikuti imam syafi'ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu''. [I'anatut Tholibin I/17]
Sekiranya cukup, yang kami sampaikan tentang sangat perlunya bermadzhab dalam beragama islam yang benar dan sesuai ajaran rosulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam

ADABNYA PENGAJAR DAN PELAJAR dari Kitab Al adab Fid Din Karya Imam Ghozalli

ADABNYA PENGAJAR DAN PELAJAR
Dinukil dari kitab Al Adab Fid Din karya Imam Ghozzali

أَدَبُ العَــالِـمِ :
لُـزُوْمُ الْعِــلْمِ ، وَالعَـمَلُ بِـالْعِــلْمِ ، وَدَوَامِ الْوَقَـــارِ ، وَمَـنْعُ التَّــكَـبْرِ ، وَتَـرْكِ الإدِّعَــاءِ بِـهِ ، وَالرِفْـقُ بِـالْمُــتَعَـلِّـمِ ، وَالتَّـأَنِّـي بِـالْمُــتَعَجْـرِفِ ، وَاصْـلَاحُ الْمَسْـئَلةِ لِلْبَـلِيْدِ ، وَتَـرْكُ الأَنَـفَـةِ مِـنْ قَـوْلِ لَا أَدْرِي ، وَتَكُــونَ هِمَّــتَهُ عِنْدَ السُـؤَالِ اِخْلَاصَـهُ مِـنَّ السَّائِلِ لِإخْلَاصِ السَّــائِلِ ، وَتَـركُ التَّـكَلُّفَ ، وَاسْـتِمَـاعِ الحُجَّـةِ وَالْقُـبُـولُ لَـهَا وَإنْ كَــانَتْ مِـنْ الخَــصْمِ .

Adabnya Pengajar adalah :
Selayaknya terus mencari dan mengamalkan ilmunya, selalu tenang , meninggalkan sifat takabbur dan tidak mengundangnya.
Mengasihi pencari ilmu dan tdk bersegera kepada orang yg sombong. Menyelesaikan masalah orang awam dan tidak merasa gengsi utk mengatakan " saua tdk tahu "
Memberikan perhatian serius atas pertanyaannya penanya dan tdk berpura-pura.
Memperhatikan dan menerima argumen walaupun itu berupa bantahan.

أَدَبُ الْمُــتَعَلِـمُ مَـعَ العَـالِمْ :
يَـبْدَؤُهُ بِـالسَـلَامْ ، وَيَـقِـلُّ بَيْنَ يَدَيْـهِ الكَـلَامْ ، وَيَـقُـومُ لَـهُ إذَا قَــامْ ، وَلَا يَقُـولُ لَـهُ : قَـالَ فُـلَانْ خِلَافَ مَـا قُـلْتَ ، وَلَا يَــسْأَلُ جَـلِيْسَــهُ فِــي مَجْــــلِسِهِ ، وَلَا يَبْـتَسِــمُ عِـنْدَ مُخَـــاطَبَتِـهِ ، وَلَا يُشِـيرُ إلَيْهِ بِخِلَافِ رَأْيِــهِ ، وَلَا يَـأْخُذْ بِثَــوْبِهِ إذَا قَــامْ ، وَلَا يَسْـتَفْـهِمْــهُ عَـنْ مَسْـئَـلَةٍ فِـي طَرِيــقِه حَـتَّـى يَبْـلُغُ إلَـى مَنْــزِلِـهِ وَلَا يُكْـثِرُ عَـلَيْهِ عِنْدَ مَــلَلَهِ .

Adabnya Pelajar di hadapan Pengajar adalah :
Selayaknya senantiasa memulai pertemuan dengan mengucapkan salam kpd pengajar, tidak banyak berbicara dihadapannya, ikut berdiri ketika dia berdiri, dan tidak mengatakan : " fulan mengatakan sesuatu yg berbeda dgn apa yg anda katakan ".
Tidak bertanya kepada teman ketika duduk dihadapan pengajar,tidak tertawa ketika pengajar berbicara dan tidak memperlihatkan kpdnya pendapat yg bertentangan dgn pendapatnya.
Tidak memegang bajunya ketika dia berdiri, tidak meminta suatu penjelasan masalah ketika di tengah perjalannya hingga sampai kerumahnya dan tidak banyak bertanya ketika dia jenuh.

Wallohu a'lam.

الادب في الدين
حجة الاسلام الغزالي


Ya Allah, berikanlah manfaat kepada kami dengan apa-apa yang Engkau ajarkan kepada kami, dan ajarkanlah kami apa-apa yang bermanfaat bagi kami dan tambahkanlah ilmu kepada kami...

Aamiin

Sholawat Ke Enam dari kitab Afdholus Sholawat

SHOLAWAT KE ENAM
Dinukil dari kitab Afdholus Sholawat Syeh Yusuf An Nabhani

الصلاة السادسة:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوحِ مُحَمَّدٍ فِي الأَرْوَاحِ وَعَلَى جَسَدِهِ فِي الأَجْسَادِ وَعَلى قَبْرِهِ فِي القبورِ.
قال الإمام الشعراني كان صلى الله عليه وسلم يقول من قال هذه الكيفية رآني في منامه ومن رآني في منامه رآني يوم القيامة ومن رآني يوم القيامة شفعتُ له ومن شفعت له شرِبَ من حوضي وحرَّم الله جسده على النار.
وذكر ذلك شُراح الدلائل أيضاً بزيادة سبعين مرة عن الفاكهاني

Sholawat ke enam adalah :

" ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA RUHI MUHAMMADIN FIL ARWAH, WA 'ALA JASADIHI FIL AJSAD, WA 'ALA QOBRIHI FIL QUBUR "

Imam As Sya'roni berkata, dulu Rasululloh shollallohu alaihi wasallam bersabda :
" Barang siapa yg mengucapkan sholawat dengan cara ini (ALLAHUMMA SHOLLI 'ALA RUHI MUHAMMADIN FIL ARWAH, WA 'ALA JASADIHI FIL AJSAD, WA 'ALA QOBRIHI FIL QUBUR) maka dia akan melihatku dalam mimpinya, dan barang siapa yg melihatku dalam mimpinya maka dia akan melihatku pada hari kiyamat, barang siapa yg melihatku pada hari kiyamat maka aku akan mensyafa'atinya, dan barang siapa yg kusyafa'ati maka dia akan minum dari telagaku dan Allah mengharamkan jasadnya pada neraka."
Ulama' pensyarah kitab Dalail juga menuturkan hal tsb dengan tambahan " tujuh puluh kali " dari Al Fakihani.

قلت وقد جربت هذه الصلاة قبيل النوم حتى نمت فرأيت وجهه الشريف صلى الله عليه وسلم في داخل القمر وخاطبته ثم غاب في القمر واسأَل الله العظيم بجاهه عليه الصلاة والتسليم أن يحصل لي باقي النعم التي وعد بها صلى الله عليه وسلم في هذا الحديث الشريف.

Syeh Yusuf An Nabhani berkata :
" aku telah mencobanya dengan membaca sholawat ini sejenak sebelum tidur hingga aku tertidur, kemudian kulihat wajahnya Nabi yg mulia shollallohu alaihi wasallam di dalam rembulan dan aku berbicara kepadanya, kemudian beliau hilang di dalam rembulan.
Aku memohon kpd Allah dengan pangkatnya Nabi alaihis sholat wat taslim agar bisa hasil bagiku kenikmatan2 lainnya yg telah di janjikan oleh Nabi shollallohu alaihi wasallam di dalam hadis syarif."

Wallohu a'lam.

أفضل الصلوات على سيدالسادات
للشيخ القاضى يوسف النبهانى

Ya Allah jadikanlah kami dalam kalangan orang-orang yang mendapatkan syafaat Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam ketika hari kebangkitan (akhirat) kelak.....

Aamiin

Pengertian Madzhab Pada Empat Madzhab

Pengertian Madzhab
Madzhab, secara etimologi bahasa adalah tempat untuk pergi. Isim zaman (isim yang mengisyarahkan masa/waktu), dan isim makan (isim yang meng-isyarahkan tempat) Berasal dari fi’il madli “dzahaba-yadhhabu-dzihaaban”. Sedangkan menurut istilah ilmu fikih, madzhab adalah, sebuah metodologi khusus yang dijalankan oleh mujtahid (pakar ijtihad), yang menghantarkan sebuah hukum fikih, dengan merujuk pada Al Qur’an & Hadits nabi.

Adapun dasar hukum dalam bermadzhab adalah firman Alloh S.w.t, sbb:
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (الأنبياء [21]: 7)
Artinya: “Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 7)

BACA JUGA: Mengapa Harus Bermadzhab?
Sekilas Tentang Madzhab Empat
1. Mazhab Hanafi
Pendiri mazhab Hanafi ialah; Nu’man bin Tsabit bin Zautha. Diahirkan pada masa sahabat, yaitu pada tahun 80 H = 699 M. Beliau wafat pada tahun 150 H bertepatan dengan lahirnya Imam Syafi’i R.A. Beliau lebih dikenal dengan sebutan: Abu Hanifah An Nu’man.

Abu Hanifah adalah seorang mujtahid yang ahli ibadah. Dalam bidang fiqh beliau belajar kepada Hammad bin Abu Sulaiman pada awal abad kedua hijriah dan banyak belajar pada ulama-ulama Ttabi’in, seperti Atha bin Abi Rabah dan Nafi’ Maula Ibnu Umar.
Mazhab Hanafi adalah, sebagai penisbatan dari nama imam pendiri-nya, Abu Hanifah. Jadi mazhab Hanafi adalah nama dari kumpulan-kumpulan pendapat-pendapat yang berasal dari Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya serta pendapat-pendapat yang berasal dari para pengganti mereka sebagai perincian dan perluasan pemikiran yang telah digariskan oleh mereka yang kesemuanya adalah hasil dari pada cara dan metode ijtihad ulama-ulama Irak (Ahlu Ra’yi). Maka disebut juga mazhab Ahlur Ra’yi masa Tsabi’it Tabi’in.

Dasar-dasar Mazhab Hanafi
Abu Hanifah dalam menetapkan hukum fiqh terdiri dari tujuh pokok, yaitu: Al-Kitab, As Sunnah, Perkataan para Sahabat, Al-Qiyas, Al-Istihsan, Ijma’ dan Uruf.

Murid-murid Abu Hanifah adalah sebagai berikut:
1) Abu Yusuf bin Ibrahim Al-Anshari (113-183 H)
2) Zufar bin Hujail bin Qais al-Kufi (110-158 H)
3) Muhammad bin Hasn bin Farqad as Syaibani (132-189 H)
4) Hasan bin Ziyad Al-Lu’lu Al-Kufi Maulana Al-Anshari (….-204 H).

Daerah-daerah Penganut Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi mulai tumbuh di Kufah (Irak), kemudian tersebar ke negara-negara Islam bagian Timur. Dan sekarang ini mazhab Hanafi merupakan mazhab resmi di Mesir, Turki, Syiria dan Libanon. Kemudian mazhab ini dianut sebagian besar penduduk Negara Afganistan, Pakistan, Turkistan, Muslimin India dan Tiongkok.

2. Madzhab Maliki
Madzhab Maliki, adalah kumpulan dari hasil istinbath hukum Imam Maliki, dan para santri-santrinya, setelah sepeninggalannya, kemudian diikuti dan dikembangkan oleh para penerus-nya.
Nama lengkap dari pendiri mazhab ini ialah: Malik bin Anas bin Abu Amir. Lahir pada tahun 93 M = 712 M di Madinah. Selanjutnya dalam kalangan umat Islam beliau lebih dikenal dengan sebutan Imam Malik. Imam Malik terkenal dengan imam dalam bidang hadis Rasulullah S.a.w.
Imam Malik belajar pada Ulama-ulama Madinah. Sedangkan yang menjadi guru pertamanya ialah Abdur Rahman bin Hurmuz. Beliau juga belajar kepada Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Ibnu Syihab Az Zuhri.
Adapun yang menjadi gurunya dalam faan ilmu fiqh ialah; Rabi’ah bin Abdur Rahman. Imam Malik adalah imam (tokoh) negeri Hijaz, bahkan tokohnya semua bidang fiqh dan hadits.

Dasar-dasar Madzhab Maliki

• Nashshul Kitab
• Dzaahirul Kitab (umum)
• Dalilul Kitab (mafhum mukhalafah)
• Mafhum muwafaqah
• Tanbihul Kitab, terhadap illat
• Nash-nash Sunnah
• Dzahirus Sunnah
• Dalilus Sunnah
• Mafhum Sunnah
• Tanbihus Sunnah
• Ijma’
• Qiyas
• Amalu Ahlil Madinah
• Qaul Shahabi
• Istihsan
• Muraa’atul Khilaaf
• Saddud Dzaraa’i.

Para santri Imam Malik Yang Melanjutkan Madzhab Maliki
1) Abu Muhammad Abdullah bin Wahab bin Muslim.
2) Abu Abdillah Abdur Rahman bin Qasim al-Utaqy.
3) Asyhab bin Abdul Aziz al-Qaisi.
4) Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Hakam.
5) Asbagh bin Farj al-Umawi.
6) Muhammad bin Abdullah bin Abdul Hakam.
7) Muhammad bin Ibrahim bin Ziyad al-Iskandari.
8) Abu Abdillah Ziyad bin Abdur Rahman al-Qurthubi.
9) Isa bin Dinar al-Andalusi.
10)Yahya bin Yahya bin Katsir Al-Laitsi.
11) Abdul Malik bin Habib bin Sulaiman As Sulami.
12) Abdul Hasan Ali bin Ziyad At Tunisi.
13) Asad bin Furat.
14)Abdus Salam bin Said At Tanukhi.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Maliki.
Awal mulanya tersebar di daerah Madinah, kemudian tersebar sampai saat ini di Marokko, Aljazair, Tunisi, Libia, Bahrain, dan Kuwait.

3. Madzhab Syafi’i
Mazhab ini didirikan oleh Al-Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i, seorang keturunan Hasyim bin Abdul Muthalib bin Abdi Manaf. Beliau lahir di Gaza (Palestina) tahun 150 H bersamaan dengan tahun wafatnya Imam Abu Hanifah yang menjadi Mazhab yang pertama.
Guru Imam Syafi’i yang pertama ialah Muslim bin Khalid, seorang Mufti di Mekah. Imam Syafi’i dianugrahkan mampu menghafal Al Qur’an pada usia di tujuh tahun. Setelah beliau hafal Al Qur’an, barulah mempelajari bahasa dan sya’ir; kemudian beliau mempelajari hadits, dan fiqh.
Mazhab Syafi’i terdiri dari dua macam; berdasarkan atas masa dan tempat beliau mukim, yang pertama; Qaul Qadim; yaitu istinbath Imam Syafi’i sewaktu hidup di-Irak. Dan yang kedua ialah Qaul Jadid; yaitu istinbath imam Syafi’i sewaktu beliau hidup di Mesir pindah.

Keistimewaan Imam Syafi’i dibanding dengan para Mujtahid lainnya, yaitu beliau merupakan peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqh dengan kitabnya Ar Risaalah. Dan kitabnya dalam bidang fiqh yang menjadi induk dari mazhabnya ialah: Al-Umm.

Dasar-dasar Mazhab Syafi’i:
Dasar-dasar atau sumber hukum yang dipakai Imam Syafi’i dalam ber-istinbat hukum syar’i adalah:
1. Al-Kitab.
2. Sunnah Mutawatirah.
3. Al-Ijma’.
4. Khabar Ahad.
5. Al-Qiyas.
6. Al-Istishab.

Ulama-ulama yang terkemudian yang mengikuti dan turut menyebarkan Mazhab Syafi'i, antara lain :
Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa'I, Imam Baihaqi, Imam Turmudzi, Imam Ibnu Majah, Imam Tabari
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Abu Daud, Imam Nawawi, Imam as-Suyuti, Imam Ibnu Katsir, Imam adz-Dzahabi, Imam al-Hakim dst-nya.

Daerah-daerah yang Menganut Mazhab Syafi’i
Mazhab Syafi’i sampai sekarang dianut oleh umat Islam di negara Libia, Mesir, Indonesia, Pilipina, Malaysia, Somalia, Arabia Selatan, Palestina, Yordania, Libanon, Siria, Irak, Hijaz, Pakistan, India, Jazirah Indo China, Sunni-Rusia dan Yaman.

4. Mazhab Hambali.
Pendiri Mazhab Hambali ialah: Al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Azzdahili Assyaibani. Beliau lahir di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H.
Ahmad bin Hanbal adalah seorang imam yang banyak berkunjung ke berbagai negara untuk mencari ilmu pengetahuan, antara lain: Siria, Hijaz, Yaman, Kufah dan Basrsh. Dan beliau dapat menghimpun sejumlah 40.000 hadis dalam kitab Musnadnya.

Dasar-dasar Mazhab Hambali
Adapun dasar-dasar mazhabnya dalam mengistinbatkan hukum adalah:
1. Nash Al-Qur-an atau nash hadits.
2. Fatwa sebagian Sahabat.
3. Pendapat sebagian Sahabat.
4. Hadits Mursal atau Hadits Doif.
5. Qiyas.

Dalam menjelaskan dasar-dasar fatwa Ahmad bin Hanbal ini di dalam kitabnya I’laamul Muwaaqi’in.

Pengembang-pengembang Mazhab Hanbali
Adapun ulama-ulama yang mengembangkan mazhab Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:

1 Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Hani yang terkenal dengan nama Al-Atsram; dia telah mengarang Assunan Fil Fiqhi ‘Alaa Mazhabi Ahamd.
2 Ahmad bin Muhammad bin Hajjaj al-Marwazi yang mengarang kitab As Sunan Bisyawaahidil Hadis.
3.Ishaq bin Ibrahim yang terkenal dengan nama Ibnu Ruhawaih al-Marwazi dan termasuk ashab Ahmad terbesar yang mengarang kitab As Sunan Fil Fiqhi.
4.Ada beberapa ulama yang mengikuti jejak langkah Imam Ahmad yang menyebarkan mazhab Hambali, di antaranya:
5.Muwaquddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi yang mengarang kitab Al-Mughni.
6.Syamsuddin Ibnu Qudaamah al-Maqdisi pengarang Assyarhul Kabiir.
7. Syaikhul Islam Taqiuddin Ahmad Ibnu Taimiyah pengarang kitab terkenal Al-Fataawa.
8.Ibnul Qaiyim al-Jauziyah pengarang kitab I’laamul Muwaaqi’in dan Atturuqul Hukmiyyah fis Siyaasatis Syar’iyyah.Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qaiyim adalah dua tokoh yang membela dan mengembangkan mazhab Hambali.
9.Dan seterusnya..

Daerah yang Menganut Mazhab Hambali.
Awal perkembangannya, mazhab Hambali berkembang di Bagdad, Irak dan Mesir dalam waktu yang sangat lama. Pada abad XII mazhab Hambali berkembang terutama pada masa pemerintahan Raja Abdul Aziz As Su’udi.

Dan masa sekarang ini menjadi mazhab resmi pemerintahan Saudi Arabia dan mempunyai penganut terbesar di seluruh Jazirah Arab, Palestina, Siria dan Irak

Amalan Ibadah Orang Awam

Orang – orang awam mengucapkan Hamdalah sesudah selesai beribadah .Adapun kebanyakan Orang – orang khusus justru beristighfar sesudahnya .

Orang awam dengan segala kekurangan didalam ke awamannya , sudah mau beribadah saja itu luar biasa . Patutlah mereka berhamdalah.

Adapun para khawas , orang – orang khusus itu telah mengerti bahwa amal ibadah baru dikatakan Maqbul , di terima Allah Ta’ala jika telah memenuhi syarat – syaratnya .

Ikhlas.
Khudhur .
Menyakini amal nya terjadi karena Allah , bukan karena kehendak dirinya sendiri [ Tabarriy fil amal minal Haul wal quwwah ]

Mereka menyakini betul amal yang memenuhi tiga syarat tersebut sangatlah langka . Merekapun selalu merasa ada yang kurang di setiap amal – amal mereka.

Sebagaimna Sayyidina Yahya bin Mu’adh yang berkata : “ Sungguh kasihan seorang anak adam . Jasadnya penuh kekurangan . Hatinya penuh kecacatan . Tetapi ia menginginkan dari dua aib di dirinya itu dapat keluar sebuah amal yang selamat tanpa kecacatan di dalamnya.”

Karena itulah mereka memohon ampun kepada Allah justru sesudah mereka melakukan ketaatan kepada_Nya . Memohon ampunan atas amal – amal yang sebenarnya jauh dari layak untuk di haturkan kepada Tuhannya.

Sayyidina Junaid ra berkata : “ Taubatnya kemaksiyatan cuma sekali . Tetapi taubatnya ketaatan mesti melakukannya seribu kali “

Mungkin ini adalah rahasia mengapa Baginda Rasulullah SAW mengajarkan kepada ummatnya , tasyri’ untuk dilakukan para ummat sesudahnya , beliau sesudah melakukan Shalat beliau beristighfar tiga kali.

Maksud beliau adalah agar manusia itu selalu merasakan kekurangan di setiap amal – amal mereka karena Rasul SAW sendiri tidak memerlukan istighfar tersebut karena kemaksumannya.

Tarjamah Aqidatul 'Awam

Tarjamah Aqidatul 'Awam
الشيخ أحمد المرزوقي المالكي
Asy-Syeikh Ahmad Al Marzuqi Al Maliki

Dasar-Dasar Ilmu Aqiah

أَبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ وَالـرَّحْـمَنِ ۞ وَبِـالـرَّحِـيـْمِ دَائِـمِ اْلإِحْـسَانِ
Saya memulai dengan nama Alloh, Dzat yang maha pengasih, dan Maha Penyayang yang senatiasa memberikan
kenikmatan tiada
putusnya

فَالْـحَـمْـدُ للهِ الْـقَدِيْمِ اْلأَوَّلِ ۞ اْلآخِـرِ الْـبَـاقِـيْ بِلاَ تَـحَـوُّلِ
Maka segala puji bagi Alloh Yang Maha Dahulu, Yang Maha Awal, Yang Maha Akhir, Yang Maha Tetap tanpa ada perubahan

ثُـمَّ الـصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ سَرْمَـدَ ا ۞ عَـلَـى الـنَّـبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ وَحَّدَا
Kemudian, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan pada Nabi sebaik-baiknya orang yang mengEsakan Alloh

وَآلِهِ وَصَـحْـبِهِ وَمَـنْ تَـبِـعْ ۞ سَـبِـيْلَ دِيْنِ الْحَقِّ غَيْرَ مُـبْـتَدِعْ
Dan keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti jalan agama secara benar bukan orang-orang yang berbuat sasar

وَبَـعْـدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوْبِ الْمـــَعْرِفَـهْ ۞ مِنْ وَاجِــبٍ للهِ عِـشْرِيْنَ صِفَـهْ
Dan setelahnya ketahuilah dengan yakin bahwa Alloh itu mempunyai 20 sifat wajib

فَـاللهُ مَـوْجُـوْدٌ قَـدِيْمٌ بَاقِـي ۞ مُخَـالِـفٌ لِلْـخَـلْقِ بِاْلإِطْـلاَقِ
Alloh itu Ada, Qodim, Baqi dan berbeda dengan makhlukNya secara mutlak

وَقَـائِمٌ غَـنِـيْ وَوَاحِـدٌ وَحَيّ ۞ قَـادِرٌ مُـرِيـْدٌ عَـالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Berdiri sendiri, Maha Kaya, Maha Esa, Maha Hidup, Maha Kuasa, Maha Menghendaki, Maha Mengetahui atas segala sesuatu

سَـمِـيْعٌ الْبَـصِيْـرُ والْمُتَكَلِـمُ ۞ لَهُ صِفَـاتٌ سَـبْـعَـةٌ تَـنْـتَظِمُ
Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berbicara, Alloh mempunyai 7 sifat yang tersusun

فَـقُـدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَـمْـعٌ بَصَـرْ ۞ حَـيَـاةٌ الْـعِلْـمُ كَلاَمٌ اسْـتَمَرْ
yaitu Berkuasa, Menghendaki, Mendengar, Melihat, Hidup, Mempunyai Ilmu, Berbicara
Dengan ayat kalam-nya

وَ جَـائـِزٌ بِـفَـضْـلِهِ وَ عَدْلِهِ ۞ تَـرْكٌ لِـكُـلِّ مُمْـكِـنٍ كَفِعْلِهِ
Dengan karunia dan keadilanNya, Alloh memiliki sifat boleh (wenang) yaitu boleh mengerjakan sesuatu atau meninggalkannya

أَرْسَـلَ أَنْـبِيَا ذَوِي فَـطَـانَـهْ ۞ بِالصِّـدْقِ وَالـتَّـبْلِـيْغِ وَاْلأَمَانَهْ
Alloh telah mengutus para nabi yang memiliki 4 sifat yang wajib yaitu cerdas, jujur, menyampaikan (risalah) dan dipercaya

وَجَـائِزٌ فِي حَقِّـهِمْ مِنْ عَـرَضِ ۞ بِغَـيْـرِ نَقْصٍ كَخَفِيْفِ الْمَـرَضِ
Dan boleh didalam hak Rosul dari sifat manusia tanpa mengurangi derajatnya,misalnya sakit yang ringan

عِصْـمَـتُهُمْ كَسَـائِرِ الْمَلاَئِـكَهْ ۞ وَاجِـبَـةٌ وَفَـاضَلُوا الْـمَـلاَئِكَهْ
Mereka mendapat penjagaan Alloh (dari perbuatan dosa) seperti para
malaikat seluruhnya. (Penjagaan itu) wajib bahkan para Nabi lebih utama
dari para malaikat

وَالْـمُسْـتَحِــيْلُ ضِدُّ كُـلِّ وَاجِبِ ۞ فَـاحْـفَظْ لِخَمْسِيْنَ بِحُكْمٍ وَاجِبِ
Dan sifat mustahil adalah lawan dari sifat yang wajib maka hafalkanlah 50 sifat itu sebagai ketentuan yang wajib

تَـفْصِيْـلُ خَمْسَةٍ وَعِشْرِيْـنَ لَزِمْ ۞ كُـلَّ مُـكَـلَّـفٍ فَحَقِّقْ وَاغْـتَنِمْ
Adapun rincian nama para Rosul ada 25 itu wajib diketahui bagi setiap mukallaf, maka yakinilah dan ambilah keuntungannya

هُمْ آدَمُ اِدْرِيْسُ نُـــوْحٌ هُـوْدٌ مَـعْ ۞ صَالِـحْ وَإِبْرَاهِـيْـمُ كُـلٌّ مُـتَّبَعْ
Mereka adalah Nabi Adam, Idris, Nuh, Hud serta Sholeh, Ibrahim ( yang masing-masing diikuti berikutnya)

لُوْطٌ وَاِسْـمَاعِيْلُ اِسْحَاقٌ كَــــذَا ۞ يَعْـقُوْبُ يُوْسُفٌ وَأَيـُّوْبُ احْتَذَى
Luth, Ismail dan Ishaq demikian pula Ya'qub, Yusuf dan Ayyub dan selanjutnya

شُعَيْبُ هَارُوْنُ وَمُوْسَى وَالْـيَسَعْ ۞ ذُو الْكِـفْلِ دَاوُدُ سُلَيْمـانُ اتَّـبَـعْ
Syuaib, Harun, Musa dan Alyasa', Dzulkifli, Dawud, Sulaiman yang diikuti

إلْـيَـاسُ يُوْنُسْ زَكَرِيـَّا يَحْيَى ۞ عِـيْسَـى وَطَـهَ خَاتِمٌ دَعْ غَـيَّا
Ilyas, Yunus, Zakaria, Yahya, Isa dan Thaha (Muhammad) sebagai penutup, maka tinggalkanlah jalan yang menyimpang dari kebenaran

عَلَـيْـهِـمُ الصَّـلاةُ والسَّـلامُ ۞ وآلِهِـمْ مـَـا دَامَـتِ اْلأَيـَّـامُ
Semoga sholawat dan salam terkumpulkan pada mereka dan keluarga mereka sepanjang masa

وَالْـمَـلَكُ الَّـذِي بِلاَ أَبٍ وَأُمْ ۞ لاَ أَكْـلَ لاَ شـُرْبَ وَلاَ نَوْمَ لَهُمْ
Adapun para malaikat itu tetap tanpa bapak dan ibu, tidak makan dan tidak minum serta tidak tidur

تَفْـصِـيْلُ عَشْرٍ مِنْهُمُ جِبْرِيْـلُ ۞ مِـيْـكَـالُ اِسْـرَافِيْلُ عِزْرَائِـيْلُ
Secara terperinci mereka ada 10, yaitu Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil

مُـنْـكَرْ نَـكِـيْرٌ وَرَقِيْبٌ وَكَذَا ۞ عَـتِـيْدُ مَالِكٌ وَرِضْوَانُ احْتـَذَى
Munkar, Nakiir, dan Roqiib, demikian pula ‘Atiid, Maalik, dan Ridwan dan selanjutnya

أَرْبَـعَـةٌ مِنْ كُتُبٍ تَـفْصِيْـلُهَا ۞ تَـوْارَةُ مُـوْسَى بِالْهُدَى تَـنْـزِيْلُهَا
Empat dari Kitab-Kitab Suci Allah secara terperinci adalah Taurat bagi Nabi Musa diturunkan dengan membawa petunjuk

زَبُـوْرُ دَاوُدَ وَاِنْـجِـيْـلٌ عَلَى ۞ عِيْـسَى وَفُـرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَـلاَ
Zabur bagi Nabi Dawud dan Injil bagi Nabi Isa dan AlQur’an bagi sebaik-baik kaum (Nabi Muhammad SAW)

وَصُحُـفُ الْـخَـلِيْلِ وَالْكَلِيْـمِ ۞ فِيْـهَـا كَلاَمُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيْـمِ
Dan lembaran-lembaran (Shuhuf) suci yang diturunkan untuk AlKholil
(Nabi Ibrohim) dan AlKaliim (Nabi Musa) mengandung Perkataan dari Yang
Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui

وَكُـلُّ مَـا أَتَى بِهِ الـرَّسُـوْلُ ۞ فَحَـقُّـهُ الـتَّـسْـلِـيْمُ وَالْقَبُوْلُ
Dan segala apa-apa yang disampaikan oleh Rosulullah, maka kita wajib pasrah dan menerima

إِيـْمَـانُـنَا بِـيَـوْمِ آخِرٍ وَجَبْ ۞ وَكُـلِّ مَـا كَـانَ بِـهِ مِنَ الْعَجَبْ
Keimanan kita kepada Hari Akhir hukumnya wajib, dan segala perkara yang dahsyat pada Hari Akhir

خَـاتِمَةٌ فِي ذِكْرِ بَاقِي الْوَاجِــبِ ۞ مِمَّـا عَـلَى مُكَـلَّفٍ مِنْ وَاجِـبِ
Sebagai penutup untuk menerangkan ketetapan yang wajib, dari hal yang menjadi kewajiban bagi mukallaf

نَـبِـيُّـنَـا مُحَمَّدٌ قَـدْ أُرْسِلاَ ۞ لِلْـعَالَمِـيْـنَ رَحْـمَـةً وَفُضِّلاَ
Nabi kita Muhammad telah diutus untuk seluruh alam sebagai Rahmat dan keutamaan diberikan kepada beliau SAW melebihi semua

أَبـُوْهُ عَـبْدُ اللهِ عَبْدُ الْمُطَّلِـبْ ۞ وَهَـاشِمٌ عَبْـدُ مَنَافٍ يَـنْـتَسِبْ
Ayahnya bernama Abdullah putera Abdul Mutthalib, dan nasabnya bersambung kepada Hasyim putera Abdu Manaf

وَأُمُّـهُ آمِـنَـةُ الـزُّهْـرِيـَّـــــهْ ۞ أَرْضَـعَـهُ حَـلِيْمَـةُ السَّعْدِيـَّهْ
Dan ibunya bernama Aminah Az-Zuhriyyah, yang menyusui beliau adalah Halimah As-Sa’diyyah

مـَوْلِدُهُ بِـمَـكَـةَ اْلأَمِيْـنَـهْ ۞ وَفَـاتُـهُ بِـطَـيْـبَةَ الْـمَدِيْنَهْ
Lahirnya di Makkah yang aman, dan wafatnya di Toiybah (Madinah)

أَتَـمَّ قَـبْـلَ الْـوَحِيِ أرْبَعِيْنَا ۞ وَعُمْـرُهُ قَـدْ جَـاوَزَ الـسِّـتِّيْنَا
Sebelum turun wahyu, nabi Muhammad telah sempurna berumur 40 tahun, dan usia beliau 60 tahun lebih

وسـَبْـعَةٌ أَوْلاَدُهُ فَـمِـنْـهُـمُ ۞ ثَلاَثَـةٌ مِـنَ الـذُّكُـوْرِ تُـفْهَمُ
Ada 7 orang putera-puteri nabi Muhammad, diantara mereka 3 orang laki-laki, maka pahamilah itu

قـَاسِـمْ وَعَـبْدُ اللهِ وَهْوَ الطَّيـِّـــبُ ۞ وَطَـاهِـرٌ بِـذَيْـنِ ذَا يُـلَقَّبُ
Qasim dan Abdullah yang bergelar At-Thoyyib dan At-Thohir, dengan 2
sebutan inilah (At-Thoyyib dan At-Thohir) Abdullah diberi gelar

أَتَـاهُ إِبـْرَاهِـيْـمُ مِنْ سَـرِيـَّهْ ۞ فَأُمُّهُ مَارِيـَةُ الْـقِـبْـطِـيَّـهْ
Anak yang ketiga bernama Ibrohim dari Sariyyah (Amat perempuan), ibunya (Ibrohim) bernama Mariyah Al-Qibtiyyah

وَغَـيْـرُ إِبـْرَاهِيْمَ مِنْ خَـدِيْجَهْ ۞ هُمْ سِتَـةٌ فَـخُـذْ بِـهِمْ وَلِـيْجَهْ
Selain Ibrohim, ibu putera-puteri Nabi Muhammad berasal dari Khodijah,
mereka ada 6 orang (selain Ibrohim), maka kenalilah dengan penuh cinta

وَأَرْبَعٌ مِـنَ اْلإِنـَاثِ تُـذْكَـر ۞ رِضْـوَانُ رَبِّـي لِلْـجَـمِـيْعِ يُذْكَرُ
Dan 4 orang anak perempuan Nabi akan disebutkan, semoga keridhoan Allah untuk mereka semua

فَـاطِـمَـةُ الزَّهْرَاءُ بَعْلُهَا عَلِيْ ۞ وَابـْنـَاهُمَا السِّبْطَانِ فَضْلُهُمْ جَلِيْ
Fatimah Az-Zahro yang bersuamikan Ali bin Abi Tholib, dan kedua putera
mereka (Hasan dan Husein) adalah cucu Nabi yang sudah jelas keutamaanya

فَـزَيْـنَـبٌ وبَـعْـدَهَـا رُقَـيَّـهْ ۞ وَأُمُّ كُـلْـثُـوْمٍ زَكَـتْ رَضِيَّهْ
Kemudian Zaenab dan selanjutnya Ruqayyah, dan Ummu Kultsum yang suci lagi diridhoi

عَـنْ تِسْـعِ نِسْوَةٍ وَفَاةُ الْمُصْطَفَى ۞ خُـيِّـرْنَ فَاخْـتَرْنَ النَّـبِيَّ الْمُقْتَفَى
Dari 9 istri Nabi ditinggalkan setelah wafatnya, mereka semua telah
diminta memilih syurga atu dunia, maka mereka memilih nabi sebagai
panutan

عَـائِـشَـةٌ وَحَـفْصَةٌ وَسَـوْدَةُ ۞ صَـفِـيَّـةٌ مَـيْـمُـوْنَةٌ وَ رَمْلَةُ
Aisyah, Hafshah, dan Saudah, Shofiyyah, Maimunah, dan Romlah

هِنْـدٌ وَ زَيْـنَبٌ كَـذَا جُوَيـْرِيَهْ ۞ لِلْـمُـؤْمِنِيْنَ أُمَّـهَاتٌ مَرْضِيَهْ
Hindun dan Zaenab, begitu pula Juwairiyyah, Bagi kaum Mu’minin mereka menjadi ibu-ibu yang diridhoi

حَـمْـزَةُ عَـمُّـهُ وعَـبَّـاسٌ كَذَا ۞ عَمَّـتُـهُ صَـفِيَّـةٌ ذَاتُ احْتِذَا
Hamzah adalah Paman Nabi demikian pula ‘Abbas, Bibi Nabi adalah Shofiyyah yang mengikuti Nabi

وَقَـبْـلَ هِـجْـرَةِ النَّـبِيِّ اْلإِسْرَا ۞ مِـنْ مَـكَّـةٍ لَيْلاً لِقُدْسٍ يُدْرَى
Dan sebelum Nabi Hijrah (ke Madinah), terjadi peristiwa Isro’. Dari
Makkah pada malam hari menuju Baitul Maqdis yang dapat dilihat

بَـعْـدَ إِسْـرَاءٍ عُـرُوْجٌ لِلـسَّمَا ۞ حَتىَّ رَأَى الـنَّـبِـيُّ رَبـًّا كَـلَّمَا
Setelah Isro’ lalu Mi’roj (naik) keatas sehingga Nabi melihat Tuhan yang berkata-kata

مِنْ غَيْرِ كَيْفٍ وَانْحِصَارٍ وَافْـتَرَضْ ۞ عَـلَـيْهِ خَمْساً بَعْدَ خَمْسِيْنَ فَرَضْ
Berkata-kata tanpa bentuk dan ruang. Disinilah diwajibkan kepadanya (sholat) 5 waktu yang sebelumnya 50 waktu

وَبَــلَّـغَ اْلأُمَّــةَ بِـاْلإِسـْرَاءِ ۞ وَفَـرْضِ خَـمْـسَةٍ بِلاَ امْتِرَاءِ
Dan Nabi telah menyampaikan kepada umat peristiwa Isro’ tersebut. Dan kewajiban sholat 5 waktu tanpa keraguan

قَـدْ فَـازَ صِـدِّيْقٌ بِتَـصْدِيْقٍ لَـهُ ۞ وَبِـالْـعُرُوْجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ
Sungguh beruntung sahabat Abubakar As-Shiddiq dengan membenarkan
peristiwa tersebut, juga peristiwa Mi’raj yang sudah sepantasnya
kebenaran itu disandang bagi pelaku Isro’ Mi’roj

وَهَــذِهِ عَـقِـيْـدَةٌ مُـخْـتَصَرَهْ ۞ وَلِـلْـعَـوَامِ سَـهْـلَةٌ مُيَسَّرَهْ
Inilah keterangan Aqidah secara ringkas bagi orang-orang awam yang mudah dan gampang

نـَاظِـمُ تِلْـكَ أَحْـمَدُ الْمَرْزُوقِيْ ۞ مَـنْ يَنْـتَمِي لِلصَّادِقِ الْمَصْدُوْقِ
Yang di nadhomkan oleh Ahmad Al Marzuqi, seorang yang bernisbat kepada Nabi Muhammad (As-Shodiqul Mashduq)

وَ الْحَـمْـدُ للهِ وَصَـلَّى سَـلَّمَا ۞ عَلَـى النَّبِيِّ خَيْرِ مَنْ قَدْ عَلَّمَا
Dan segala puji bagi Allah serta Sholawat dan Salam tercurahkan kepada Nabi sebaik-baik orang yang telah mengajar

وَاْلآلِ وَالـصَّـحْــــبِ وَكُـلِّ مُرْشِدِ ۞ وَكُـلِّ مَـنْ بِخَيْرِ هَدْيٍ يَقْتَدِي
Juga kepada keluarga dan sahabat serta orang yang memberi petunjuk dan orang yang mengikuti petunjuk

وَأَسْـأَلُ الْكَـرِيْمَ إِخْـلاَصَ الْعَمَلْ ۞ ونَـفْـعَ كُـلِّ مَنْ بِهَا قَدِ اشْتَغَلْ
Dan saya mohon kepada Allah yang Maha Pemurah keikhlasan dalam beramal
dan manfaat bagi setiap orang yang berpegang teguh pada aqidah ini

أبْيَاتُهَا ( مَـيْـزٌ ) بِـعَدِّ الْجُمَّلِ ۞ تَارِيْخُها ( لِيْ حَيُّ غُرٍّ ) جُمَّلِ
Nadhom ini ada 57 bait dengan hitungan abjad, tahun penulisannya 1258 Hijriah

سَـمَّـيْـتُـهَا عَـقِـيْدَةَ الْـعَوَامِ ۞ مِـنْ وَاجِبٍ فِي الدِّيْنِ بِالتَّمَامِ
Aku namakan aqidah ini Aqidatul Awwam, keterangan yang wajib diketahui dalam urusan agama dengan sempurna

Barakallahufiikum
Salam ukhuwahfillah

SEMOGA BERMANFAAT